Uto Wata, Cermin Peradaban dan Panggilan Merawat Alam - FloresPos Net - Page 2

Uto Wata, Cermin Peradaban dan Panggilan Merawat Alam

- Jurnalis

Rabu, 27 Agustus 2025 - 20:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sementara itu, Anthony Giddens, seorang sosiolog terkemuka asal Inggris dikenal luas sebagai pemikir modern yang berpengaruh luas lewat gagasannya tentang teori strukturasi dan modernitas refleksif, menekankan bahwa dalam masyarakat modern, identitas terus dibentuk ulang melalui refleksi dan interaksi.

Uto Wata, dalam konteks ini, menjadi arena di mana masyarakat Blepanawa dan warga Flores Timur pada umumnya merefleksikan siapa mereka, apa yang mereka warisi, dan bagaimana mereka ingin tampil di hadapan dunia luar.

Ketika ritual adat bertemu dengan isu lingkungan, lahirlah bentuk baru dari identitas komunal yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan.

Baca Juga :  Minimnya Pandangan Pemerintah Manggarai Timur terhadap Masyarakat Kurang Mampu

Pierre Bourdieu, seorang sosiolog dan intelektual publik asal Prancis yang sangat berpengaruh dalam pemikiran sosial abad ke-20, mengingatkan bahwa praktik budaya selalu terkait dengan kekuasaan dan modal simbolik.

Festival seperti Uto Wata bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga strategi untuk merebut ruang dalam struktur sosial yang lebih luas.

Ketika masyarakat lokal mengemas tradisi mereka dalam format festival, mereka sedang membangun narasi tandingan terhadap dominasi budaya luar, sekaligus mengklaim posisi tawar dalam wacana pembangunan, pariwisata, dan pelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Fantastis, Pemda Flores Timur Usul Anggaran Beli Videotron dan Sound Sistem Rp 1,2 Miliar

Di titik ini, Uto Wata bukan sekadar perayaan dan kenangan akan kisah tempo dulu. Ia adalah cermin peradaban lokal yang sedang berbicara tentang ingatan kolektif, tentang harapan regeneratif, dan tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus berubah.

Dalam tarian, nyanyian, dan ritualnya, tersimpan pesan sosiologis dan ekologis yang mendalam. Bahwasanya, budaya bukan hanya warisan, tetapi juga alat perjuangan, transformasi sosial, dan seruan untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.*

Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 263 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru