Sementara itu, Anthony Giddens, seorang sosiolog terkemuka asal Inggris dikenal luas sebagai pemikir modern yang berpengaruh luas lewat gagasannya tentang teori strukturasi dan modernitas refleksif, menekankan bahwa dalam masyarakat modern, identitas terus dibentuk ulang melalui refleksi dan interaksi.
Uto Wata, dalam konteks ini, menjadi arena di mana masyarakat Blepanawa dan warga Flores Timur pada umumnya merefleksikan siapa mereka, apa yang mereka warisi, dan bagaimana mereka ingin tampil di hadapan dunia luar.
Ketika ritual adat bertemu dengan isu lingkungan, lahirlah bentuk baru dari identitas komunal yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan.
Pierre Bourdieu, seorang sosiolog dan intelektual publik asal Prancis yang sangat berpengaruh dalam pemikiran sosial abad ke-20, mengingatkan bahwa praktik budaya selalu terkait dengan kekuasaan dan modal simbolik.
Festival seperti Uto Wata bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga strategi untuk merebut ruang dalam struktur sosial yang lebih luas.
Ketika masyarakat lokal mengemas tradisi mereka dalam format festival, mereka sedang membangun narasi tandingan terhadap dominasi budaya luar, sekaligus mengklaim posisi tawar dalam wacana pembangunan, pariwisata, dan pelestarian lingkungan.
Di titik ini, Uto Wata bukan sekadar perayaan dan kenangan akan kisah tempo dulu. Ia adalah cermin peradaban lokal yang sedang berbicara tentang ingatan kolektif, tentang harapan regeneratif, dan tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus berubah.
Dalam tarian, nyanyian, dan ritualnya, tersimpan pesan sosiologis dan ekologis yang mendalam. Bahwasanya, budaya bukan hanya warisan, tetapi juga alat perjuangan, transformasi sosial, dan seruan untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.*
Penulis adalah Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende
Halaman : 1 2










