Uto Wata, Cermin Peradaban dan Panggilan Merawat Alam - FloresPos Net

Uto Wata, Cermin Peradaban dan Panggilan Merawat Alam

- Jurnalis

Rabu, 27 Agustus 2025 - 20:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

DI TENGAH arus globalisasi yang kian deras, Festival Uto Wata yang akan digelar di Desa Blepanawa, Flores Timur, 2-4 September 2025, hadir bukan sekadar sebagai perayaan budaya.

Bagi saya, festival ini merupakan sebuah pernyataan sosial yang kuat bahwa masyarakat lokal memiliki cara sendiri untuk merawat identitas, membangun solidaritas, dan merespons perubahan zaman.

Dengan tajuk “Tonu Uto Wata Wuyo Hadun Horet”, festival ini menghidupkan kembali narasi leluhur, ritual adat, dan simbol-simbol lokal yang selama ini menjadi fondasi kehidupan komunal masyarakat Lamaholot.

Festival ini pada hakekatnya hendak memberikan penghormatan kepada seorang tokoh leluhur bernama Uto Wata. Ia adalah sosok yang dalam ingatan kolektif masyarakat Blepanawa memperjuangkan akses terhadap air sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga :  Cara Pemilihan Paus – Konklaf (7 Mei 2025 – Padre Marco SVD, Vatikan)

Dalam konteks ini, air bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan simbol keberlanjutan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam. Festival Uto Wata menjadi ruang sakral di mana warga menyampaikan syukur atas keberadaan mata air, sekaligus memperbarui komitmen untuk menjaganya sebagai warisan hidup.

Namun lebih dari itu, festival ini hendak menegaskan satu pesan ekologis yang mendesak: pentingnya merawat alam, khususnya sumber mata air sebagai sumber kehidupan.

Dalam tradisi Lamaholot, air bukan sekadar elemen fisik, melainkan entitas spiritual yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan alam semesta.

Ritual Uto Wata menjadi medium sakral untuk menyampaikan rasa syukur sekaligus komitmen kolektif dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dalam konteks ini, festival bukan hanya cermin budaya, tetapi juga refleksi etika ekologis yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga :  Murid SDK Lewobele di Flores Timur KBM di Mes Guru dan Emperan Bangunan

Sosiolog Emile Durkheim, salah satu pendiri utama ilmu sosiologi modern dari Prancis, yang kuat dengan teori fungsionalisme strukturalnya menyebut bahwa ritual kolektif berfungsi sebagai “lem sosial” yang memperkuat kohesi masyarakat.

Melalui partisipasi bersama dalam tarian, doa, dan simbol-simbol adat, individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kesadaran kolektif ini tidak hanya memperkuat identitas sosial, tetapi juga memperluas tanggung jawab moral terhadap lingkungan hidup yang menopang keberlangsungan komunitas.

Berita Terkait

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas
Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik
Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran
Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan
Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende
Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berita ini 273 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:33 WITA

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WITA

Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:26 WITA

Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende

Berita Terbaru