Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
DI TENGAH arus globalisasi yang kian deras, Festival Uto Wata yang akan digelar di Desa Blepanawa, Flores Timur, 2-4 September 2025, hadir bukan sekadar sebagai perayaan budaya.
Bagi saya, festival ini merupakan sebuah pernyataan sosial yang kuat bahwa masyarakat lokal memiliki cara sendiri untuk merawat identitas, membangun solidaritas, dan merespons perubahan zaman.
Dengan tajuk “Tonu Uto Wata Wuyo Hadun Horet”, festival ini menghidupkan kembali narasi leluhur, ritual adat, dan simbol-simbol lokal yang selama ini menjadi fondasi kehidupan komunal masyarakat Lamaholot.
Festival ini pada hakekatnya hendak memberikan penghormatan kepada seorang tokoh leluhur bernama Uto Wata. Ia adalah sosok yang dalam ingatan kolektif masyarakat Blepanawa memperjuangkan akses terhadap air sebagai sumber kehidupan.
Dalam konteks ini, air bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan simbol keberlanjutan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam. Festival Uto Wata menjadi ruang sakral di mana warga menyampaikan syukur atas keberadaan mata air, sekaligus memperbarui komitmen untuk menjaganya sebagai warisan hidup.
Namun lebih dari itu, festival ini hendak menegaskan satu pesan ekologis yang mendesak: pentingnya merawat alam, khususnya sumber mata air sebagai sumber kehidupan.
Dalam tradisi Lamaholot, air bukan sekadar elemen fisik, melainkan entitas spiritual yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan alam semesta.
Ritual Uto Wata menjadi medium sakral untuk menyampaikan rasa syukur sekaligus komitmen kolektif dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dalam konteks ini, festival bukan hanya cermin budaya, tetapi juga refleksi etika ekologis yang diwariskan lintas generasi.
Sosiolog Emile Durkheim, salah satu pendiri utama ilmu sosiologi modern dari Prancis, yang kuat dengan teori fungsionalisme strukturalnya menyebut bahwa ritual kolektif berfungsi sebagai “lem sosial” yang memperkuat kohesi masyarakat.
Melalui partisipasi bersama dalam tarian, doa, dan simbol-simbol adat, individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Kesadaran kolektif ini tidak hanya memperkuat identitas sosial, tetapi juga memperluas tanggung jawab moral terhadap lingkungan hidup yang menopang keberlangsungan komunitas.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










