Save the Children Indonesia Bantu Atasi Kesenjangan Pendidikan di 249 Sekolah di Daerah 3T - FloresPos Net

Save the Children Indonesia Bantu Atasi Kesenjangan Pendidikan di 249 Sekolah di Daerah 3T

- Jurnalis

Sabtu, 3 Mei 2025 - 15:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, FLORESPOS.net-Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei, menjadi momentum penting untuk merefleksikan upaya bersama dalam memastikan hak anak atas pendidikan yang bermutu.

Dalam peringatan tahun ini, Save the Children Indonesia menegaskan komitmennya dalam mengatasi kesenjangan pendidikan di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

“Kami melakukan intervensi seputar literasi, numerasi serta pengembangan karakter di 249 sekolah di berbagai daerah,” sebut Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia dalam rilisnya,Jumat (2/5/2025).

Dessy mengatakan, inisiatif ini dirancang untuk memperkuat kualitas pembelajaran, mendukung para guru, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak di daerah yang selama ini belum terjangkau secara optimal.

Ia menyebutkan, rapor pendidikan Indonesia tahun 2024, Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Lampung, dan Maluku Utara memperlihatkan tingkat kemampuan literasi dan numerasi siswa  masih berada pada kategori sedang hingga kurang.

Kategori “sedang” berarti hanya 40-70% murid mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi, dan kategori “kurang” berarti kurang dari 40% mencapai kompetensi minimum literasi dan numerasi.

“Data Rapor Pendidikan Indonesia 2024 menunjukkan kesenjangan kualitas pendidikan masih menjadi tantangan serius di wilayah 3T. Setiap anak, di manapun mereka tinggal, berhak mendapat pendidikan yang bermutu,” tegasnya.

Program Kreasi

Dessy menambahkan, Save the Children bersama mitra pendidikan menghadirkan program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) di 249 sekolah guna menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, menyenangkan dan menghargai keberagaman.

Lanjutnya, pendidikan yang bermutu bukan sekadar soal kebijakan, tapi tentang memahami kebutuhan anak secara utuh.

Sebagai respon nyata, kata dia, Save the Children Indonesia melakukan studi analisa situasi terkait keterampilan dasar, meliputi numerasi, literasi, dan pembentukan karakter serta aspek Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).

Baca Juga :  Pertahankan Komodo Pota, Arsyad Raih Kalpataru Tingkat Nasional

Juga terkait perubahan iklim, dan perlindungan anak di sektor Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD).

“Kajian ini dilakukan di delapan kabupaten yakni Halmahera Utara, Pulau Morotai, Kayong Utara, Ketapang, Nias Selatan, Nias Utara, Pesisir Barat dan Tanggamus,” jelasnya.

Dessy menjelaskan, studi ini menunjukkan bahwa meskipun ada semangat peningkatan kualitas pembelajaran, banyak sekolah dan guru yang masih menghadapi kesulitan dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kurikulum yang menekankan pembelajaran holistik dan kontekstual.

Ia mengakui, kurangnya pelatihan, keterbatasan akses terhadap bahan pembelajaran, serta belum optimalnya pemanfaatan data dalam perencanaan pendidikan di sekolah menjadi persoalan yang dihadapi sehari-hari oleh guru.

Selain itu, kata dia, isu penting seperti pendidikan inklusif dan perubahan iklim belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam pembelajaran, padahal relevansinya semakin mendesak di tengah krisis iklim yang nyata.

Kolaborasi Multi Pihak

Dian Hardiyanti Dedi Ketua TP PKK/Bunda PAUD dan Literasi Kabupaten Pesisir Barat mengharapkan program KREASI ini dapat meningkatkan  pembelajaran dan dapat mencapai keterampilan dasar.

Dian menyebutkan, dengan buku-buku yang menarik dan asistensi tim KREASI diharapkan mampu berdampak positif bagi kemampuan membaca anak-anak Pesisir Barat khususnya.

Save the Children Indonesia melalui program KREASI melakukan kolaborasi multipihak dalam wadah Mitra Pendidikan Indonesia untuk bersama-sama mendukung peningkatan kualitas pendidikan terutama literasi, numerasi dan pendidikan karakter di SD/MI untuk murid kelas 1-3 serta TK/RA.

Muhammad Umar Ali, Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai  mengatakan, kita memahami bersama bahwa usia dini adalah masa krusial dalam membentuk karakter dan kemampuan anak.

Umar Ali menegaskan, pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam mempersiapkan anak menghadapi jenjang pendidikan formal berikutnya.

“Saya mengajak guru PAUD, guru SD, orang tua, hingga pemangku kebijakan untuk mewujudkan proses transisi yang menyenangkan, aman, dan berpihak pada kebutuhan anak,” ucapnya.

Baca Juga :  Pemda Ngada Komit Kolaborasi dengan Umat Dibawah Gembala Baru KAE

Empat Langkah Strategis

Untuk itu, Save the Children Indonesia menyerukan  empat langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan bersama.

Dessy memaparkan, langkah pertama yakni Penguatan Kemampuan Fondasi Siswa dimana peningkatan kemampuan fondasi literasi dan numerasi murid kelas 1 hingga 3 SD akan mendorong peningkatan pendidikan dasar yang bermutu di daerah terpencil.

Ia mengatakan, peningkatan kemampuan ini dapat didorong dengan penerapan kurikulum, terutama dengan mengintegrasikan dengan konteks lokal, sehingga dapat memperkaya penerapan kurikulum yang lebih adaptif dan kontekstual.

Langkah kedua, papar Dessy, yakni Peningkatan Praktik Pengajaran yang Inklusif dimana pelatihan yang berkelanjutan bagi guru perlu diperkuat, agar mereka dapat terus meningkatkan kemampuan mengajar mereka.

“Peningkatan kapasitas guru ini juga dapat dilakukan melalui Kelompok Kerja Guru (KKG). Hal ini diperlukan untuk meningkatkan praktik pengajaran yang inklusif untuk membantu proses belajar siswa dengan beragam kebutuhan,” terangnya.

Selain itu,ungkap Dessy, kolaborasi yang lebih erat antara guru, orang tua, dan masyarakat juga sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak belajar dengan baik.

Langkah ketiga sebut dia yakni Perlindungan Anak yang Lebih Baik dimana untuk memastikan anak-anak terlindungi, mekanisme perlindungan seperti TPPK (Tim Pengembangan Perlindungan Anak) perlu diperkuat, bersama dengan advokasi atau upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

“Program edukasi dan sosialisasi yang melibatkan masyarakat juga penting, untuk meningkatkan komunikasi antara sekolah, orang tua, dan anak-anak mengenai pentingnya perlindungan anak.” tuturnya.

Langkah keempat, papar Dessy yakni Memperkuat Kolaborasi Multipihak untuk memastikan percepatan peningkatan kualitas pendidikan, pemerintah dan semua elemen masyarakat perlu bekerja sama dan berkolaborasi mendukung pendidikan anak-anak. *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Polres Ende Serahkan Tiga Tersangka Pengadaan Kapal Fiber Glass 5 GT ke Jaksa
Jokowi Besok Berkunjung ke Palue
Menindaklanjuti Pengaduan, Penyelidik Polres Sikka Memeriksa Mayella sebagai Saksi
Pembangunan Gedung KNMP Nioniba Ende Belum Rampung, Rekanan Sampaikan Kendala yang Dihadapi
Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri
Alumni Akpol 95 Kirim 1.200 Paket Bantuan untuk Korban Gempa di Tiga Kabupaten
Masa Tanggap Darurat Berakhir, BNPB Soroti Lambannya Verifikasi Data Kerusakan Rumah di Ende
TNI Distribusikan 400 Tenda, Ribuan Peralatan Tidur dan Belasan Ribu Paket Sembako
Berita ini 117 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 17:06 WITA

Polres Ende Serahkan Tiga Tersangka Pengadaan Kapal Fiber Glass 5 GT ke Jaksa

Selasa, 15 September 2026 - 13:26 WITA

Jokowi Besok Berkunjung ke Palue

Senin, 14 September 2026 - 20:31 WITA

Menindaklanjuti Pengaduan, Penyelidik Polres Sikka Memeriksa Mayella sebagai Saksi

Senin, 14 September 2026 - 16:19 WITA

Pembangunan Gedung KNMP Nioniba Ende Belum Rampung, Rekanan Sampaikan Kendala yang Dihadapi

Senin, 14 September 2026 - 10:02 WITA

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Jokowi Besok Berkunjung ke Palue

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:26 WITA