Ini menjadi keresahan nelayan Soknar dan sekitarnya. Karena penggunaan pukat cincin bisa menyebabkan kerusakanterumbu karang, ikan-ikan kecil, dan ikan yang lagi bertelur. Tentu hal itu akan merugikan nelayan setempat.
Over fishing (penangkapan ikan berlebihan) di laut dangkal, 4 mil ke bawah gegara penggunaan pukat cincin/kapal kapasitas tinggi/moderen berdampak pada populasi ikan berkurang, dan ekosistem laut jadi rusak.
Dari segi fasilitas alat tangkap nelayan lokal Soknar belum memadai, masih gunakan alat tangkaptradisional seperti senar,mata kail dan perahu.
Lanjut Hasan, di hadapan FHB pada pertemuan tersebut, nelayan Soknar minta seluruh stakeholder, DKPP Mabar dan DKP Provinsi NTT supaya menertibkan dan melakukan pengawasan ketat terhadap kapal-kapal nelayan yang langgar aturan, harus sesuaijalur yang di tentukan.
Nelayan lokal juga berharap, segera bangun pos penjagaan di wilayah operasional guna terhindar konflik perebutan wilayah tangkap ikan di laut.
Nelayan yang melanggar aturan segera diberikan sanksi supaya ada efek jera dan tidak merugikan nelayan lokal setempat-Soknar.
Hadir dalam pertemuan itu, masih Hasan, instansi-instansi teknis dari lingkup Pemkab Mabar dan Peovinsi NTT.
“Kehadiran kita di Soknar tadi sebagai kunjungan balasan, karena sebelumnya mereka sudah mengadu masalah ini di DPRD Mabar,” tandas Hasan. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










