Tidak Semua Babi Mati Akibat Virus African Swine Fever

- Jurnalis

Rabu, 22 Mei 2024 - 10:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RUTENG, FLORESPOS.net-Masyarakat yang memelihara babi mesti waspada dengan aneka penyakit atau virus yang menyerang piaraannya yang bisa saja berujung kematian.

Penyebabnya tidak meluluh akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) alias demam babi Afrika, juga oleh penyakit lainnya.

Ditemui wartawan di Ruteng, Rabu (22/5/2024), Kadis Peternakan Manggarai, Yustina A. Ladjar mengatakan, memang dalam waktu-waktu belakangan ini babi banyak mati  diduga karena virus ASF. Tetapi, kalau diteliti atau diperiksa hewannya juga bisa disebabkan penyakit lain.

“ASF hanya salah satu. Yang lainnya bisa karena infeksi bakteri, tetanus, dan lain-lain,” katanya.

Karena itu memang Disnak giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa menangani ternaknya jika sakit atau sudah mengalami gejala sakit.

Sosialisasi itu penting agar peternak selalu waspada dan bisa mengantisipasi penyakit ternaknya, termasuk ASF yang bisa muncul kapan saja.

Virus ASF sesuai dengan informasi yang berkembang cukup banyak yang menyerang babi. Tetapi, kasusnya tidak semua dilaporkan ke Disnak langsung atau pada petugas yang ada di kecamatan-kecamatan.

Baca Juga :  Progres Coklit Data Pemilih Pilkada Serentak Flores Timur Mencapai 56,97 Persen

Seharusnya dilaporkan agar diketahui secara baik. Dan, tindakan antisipasi bisa dilakukan secara baik dan benar.

Yang pasti, demikian Kadis Yustina Ladjar, pemerintah menyediakan disinfektan atas bantuan Provinsi dan Pusat agar piaraan masyarakat tidak mudah terserang penyakit baik ASF atau penyakit lainnya.

Dan, pemerintah juga sudah mengeluarkan aturan melarang membawa atau mengeluarkan babi dan produk ikutannya baik antar kabupaten maupun antar pulau pasca munculnya ASF.

Tindakan dilakukan guna mencegah penyebaran ASF yang lebih luas. Kalau babi mati, dampaknya buruk bagi peternak mengingat pentingnya babi sebagai penyangga ekonomi masyarakat.

Sedangkan Kabid Keswan, Imelda mengatakan, sesuai dengan data yang ada, untuk Januari hingga Maret lalu, jumlah babi mati akibat ASF sebanyak 151 ekor.

“Ini yang dilaporkan ke Disnak. Tetapi, tidak semua kematian babi itu dilaporkan sehingga mungkin riilnya bisa lebih banyak,” katanya.

Baca Juga :  Turun 1 Digit, Pemkab Manggarai Barat Rencanakan Rp. 78 Miliar Pembiayaan Stunting 2024

Virus ASF sampai sekarang belum ada obatnya. Tetapi, tindakan antisipatif bisa dilakukan untuk mencegah serangan ASF.

Protap penanganannya telah disampaikan untuk menghindari babi dari virus ASF. Protap itu biasanya disampaikan ketika dilakukan  sosialisasi.

Tindakan yang bisa dilakukan peternak sendiri seperti rutin membersihkan kandang, tidak memberi makan dari limbah baik dari tetangga atau tempat lain;

Babi yang sakit mesti dipisahkan dari yang sehat, orang lain tidak boleh bebas datang ke kandang, selain pemiliknya sendiri;

Disnak Manggarai sebetulnya ingin agar semua kematian babi itu dilaporkan agar bisa diketahui penyebaran dan diperiksa penyebab sakit atau matinya babi itu.

Hal itu juga penting guna bisa diupayakan penanganan yang lebih baik secara bersama-sama dan terpadu. *

Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Refleksi Hak Anak Tahun 2025 dan Urgensi 2026, Save the Children: Anak Indonesia Hadapi Krisis Ganda Digital dan Iklim
Pencarian Korban Tenggelam di Air Terjun Tiwu Pai-Terkendala Cuaca dan Debit Air Tinggi
BRI Akan Setorkan Dividen Kepada Negara  Rp11 Triliun
Pemcat Komodo Manggarai Barat Butuh Speed Boat–Untuk Layani Masyarakat Pulau
NTT Provinsi Miskin, Camat Komodo: Di Manggarai Barat Masyarakatnya Makan Kenyang
Mikael Badeoda Minta Inspektorat Akui Kekeliruan dan Sampaikan Sejujurnya ke Bupati
Kapolres Ende Tinjau Lokasi Jalan Putus di Pantura Flores–Keselamatan Warga Jadi Prioritas
Sampah Genangi Saluran Air di Kota Maumere–Perlu Penanganan di Tengah Ancaman DBD
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:48 WITA

Refleksi Hak Anak Tahun 2025 dan Urgensi 2026, Save the Children: Anak Indonesia Hadapi Krisis Ganda Digital dan Iklim

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:05 WITA

Pencarian Korban Tenggelam di Air Terjun Tiwu Pai-Terkendala Cuaca dan Debit Air Tinggi

Kamis, 15 Januari 2026 - 12:54 WITA

BRI Akan Setorkan Dividen Kepada Negara  Rp11 Triliun

Kamis, 15 Januari 2026 - 11:26 WITA

Pemcat Komodo Manggarai Barat Butuh Speed Boat–Untuk Layani Masyarakat Pulau

Kamis, 15 Januari 2026 - 11:23 WITA

NTT Provinsi Miskin, Camat Komodo: Di Manggarai Barat Masyarakatnya Makan Kenyang

Berita Terbaru

BRI Tower Jakarta

Nusa Bunga

BRI Akan Setorkan Dividen Kepada Negara  Rp11 Triliun

Kamis, 15 Jan 2026 - 12:54 WITA