BAJAWA, FLORESPOS.net-Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngada, NTT, mencatat sejak tahun 2003 hingga tahun 2023, terdapat 199 penderita HIV dan AIDS. Dari 199 orang, 94 orang telah meninggal dunia dan 105 orang lainnya masih hidup dan masih dalam perawatan.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinkes Kabupaten Ngada, Hildigunda M.W.Cleopas,S.Kep.,Ns kepada Florespos.net, di ruang kerjanya, Jumat (1/12/2023).
Dia mengatakan, sejak dua tahun lalu, Dinkes Ngada tidak hanya membuka pos pelayanan bagi para penderita di RSUD Bajawa, tetapi juga dilayani di 5 Puskesmas. Pelayanan diberikan bagi 105 penderita yang masih hidup.
“Penderita tersebar di 12 kecamatan pada 24 Puskesmas. Selain di rumah sakit, penderita dapat dilayani di 5 Puskesmas, yakni Puskesmas Aimere, Waepana, Riung, Koeloda dan Puskesmas Kota,” kata Hildigunda.
Hildigunda mengatakan, untuk obat-obat bagi para penderita HIV dan AIDS diperoleh dari pemerintah pusat yang disalurkan ke propinsi selanjutnya dikirim ke kabupaten dan Dinkes Ngada distribusi ke rumah sakit dan 5 Puskesmas tersebut.
Dia mengatakan, jumlah penderita yang paling banyak adalah di Kecamatan Bajawa tersebar pada 4 Puskesmas. Masing-masing Puskesmas Kota, Puskesmas Langa, Puskesmas Surisina dan Puskesmas Wolowio.
Penderita sebagian besar, adalah petani, sopir dan buruh, Rata-rata, mereka pernah bekerja di Kalimantan, Papua, Jawa dan Malaysia.
Hildigunda mengatakan, Kabupaten Ngada sebelumnya memang memiliki Komisi Peduli AIDs (KPA) yang turut membantu advokasi masyarakat terhadap persoalan HID dan AIDs.
Namun anggaran terbentur pandemi Covid 19, sehingga KPA tidak berjalan lagi dan pada tahun 2024. Pihaknya juga akan kembali menggandeng KPA untuk bisa dapat bersama-sama menanggulangi persoalan HIV dan AIDS.
“Pendekatan untuk ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) memang perlu ada stakeholder lainnya seperti KPA yang memang perlu dihidupkan lagi di Kabupaten Ngada,” kata Hildigunda.
Pada tahun ini, pihaknya tidak melakukan kegiatan dalam rangka hari peduli HIV dan AIDS. Karena disibukan dengan akreditasi bagi 16 Puskesmas.
Namun upaya-upaya koordinasi dengan segenap Kepala Puskesmas maupun rumah sakit tentang penanganan penderita HIV dan AIDS sudah menjadi tanggung jawab bidangnya dan berkolaborasi dengan bidang-bidang lain di Dinkes Ngada.
“Setelah skrining penderita HIV AIDS dan keluarga yang kontak erat pasti dilakukan pendampingan. Kasus ini juga ada tren peningkatan,” kata Hildigunda.
Kata Hildigunda, penderita terbanyak dari kelompok dengan usia muda. Kelompok resiko lainnya, yakni ibu hamil, catin (Calon Pengantin). Untuk pencegahan, pihaknya juga koordinasi lintas sektor untuk penanganan preventif. *
* Penulis: Wim de Rozari I Editor: Wentho Eliando










