RUTENG, FLORESPOS.net – Anggota DPR RI dari Komisi X Andreas Hugo Parera mengatakan, kurikulum tak bisa statis karena harus mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah.
“Banyak sorotan publik soal sering rubah atau ganti kurikulum. Termasuk ketika muncul diskusi awal soal kurikulum merdeka,”ujar Hugo Parera ketika berbicara pada sosialisasi kurikulum merdeka di hadapan 100 guru di Hotel Revayah, Ruteng, Manggarai, NTT, Senin (24/7/2023).
Mengapa kurikulum diubah atau malah diganti. Pertimbangan utama karena harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Dikatakan, kurikulum harus bisa menjawabi kebutuhan zaman yang terus berubah. Kalau tidak, maka pendidikan tidak berkembang dan jauh ketinggalan dengan perkembangan zaman. Karena itu, perlu dan bahkan harus dilakukan perubahan kurikulum itu.
Menurutnya, bisa dibayangkan jika kurikulum tidak berubah. Dulu zaman batu tulis, sekarang teknologi digital. Lonjatannya jauh sekali. Apakah tidak boleh merubah kurikulum dalam situasi seperti itu?
Sekarang ini, demikian politisi dari PDIP itu, sedang digalakan sosialisasi pelaksanaan kurikulum merdeka. Kurikulum ini bermaksud memerdekaan cara berpikir yang terkungkung.
“Satuan pendidik bisa melakukan inovasi dan kreasi dalam pembelajaran yang sesuai dengan potensi daerah dan kemampuan semua unsur di sekolah,” katanya.
Apa yang diajar sekolah tidak jalan sendiri dan jauh dari kondisi riil daerah. Sekolah harus pandai berinovasi demi anak didiknya.
Sedangkan pejabat dari Pusat Kurikulum Kementerian Dikbud, Riset, dan Teknologi RI, Baharudin mengatakan, kurikulum ini memerdekan para guru untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi.
“Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan kreasi dan inovasi yang sesuai dengan kondisi riil satuan pendidikan,” katanya.
Kurikulum merdeka perlu terus sosialisasikan dan digaungkan ke seluruh pelosok negeri. Hal itu penting agar semua tahu dan ketika dilaunching tahun depan, semua sudah siap melaksanakan. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor:Anton Harus










