Oleh: Pater Steph Tupeng Witin, SVD
Saudara-Saudari, Sahabat dan Kenalan terkasih. Selamat pagi.
Para ahli psikologi mengatakan bahwa rasa takut merupakan salah satu emosi dasar manusia. Ketakutan merupakan suatu mekanisme pertahanan hidup saat menghadapi ancaman dan bahaya.
Ketakutan itu sebuah kecenderungan kodrati yang wajar. Namun ketakutan menjadi sesuatu yang negatif ketika membuat seseorang tak berdaya dan kehilangan iman.
Ketakutan dalam konteks spiritual terkait erat dengan iman. “Mengapa kalian takut, hai orang yang kurang percaya?” Begitulah Yesus menantang para murid-Nya yang berteriak minta tolong dalam bandang ketakutan akibat serangan badai di tengah danau.
Bagi Yesus, teriakan minta tolong para rasul lebih merupakan tanda kurang percaya. Ironis memang karena para rasul telah lama hidup bersama Yesus dan saksikan mukjizat. Semua fakta itu seolah hilang tertelan ketakutan.
Tuhan menghardik artinya dengan suara keras, membentak yang mengisyaratkan bahwa badai di tengah danau itu bukan sekadar peristiwa alam biasa melainkan lambang serangan kuasa kejahatan.
Bagi orang Yahudi, ada kepercayaan bahwa danau/laut dikuasai oleh kekuatan jahat (Leviatha). Sabda Tuhan membuka kesadaran iman para rasul bahwa ada kekuatan Ilahi di dalam-Nya.
Tuhan ingatkan kita semua agar dalam situasi hidup kita yang gelap, datang kepada Dia sebagai peneduh dari ketakutan.
Iman kepada Tuhan tidak pernah boleh ditelan oleh badai sedahsyat apapun. Tuhan adalah jalan menuju damai dan ketenangan. Salam sehat. Tuhan berkati. *










