MESKI tergolong tanam dan panen jagung berhasil, Kades Fidelis Tukan mengakui, untuk kegiatan tanam pertama dan bisa jadi selanjutnya mereka masih mengalami kesulitan atau tantangan yang tidak sedikit.
Kesulitan itu, diakuinya, soal akses jalan menuju lokasi lahan yang masih sulit, alat mesin pertanian (Alsintan) seperti traktor, handtraktor, teknologi air karena hanya bergantung pada musim hujan, pupuk, bibit dan lainnya.
Kades Fidelis Tukan berharap, ke depan program revolusi pertanian berkelanjutan mendapatkan perhatian lebih dan intervensi dari Pemerintahan di atasnya (daerah/kabupaten, provinsi dan pusat, termasuk Anggota DPRD, DPR-RI dan DPD-RI), terutama mengenai sarana dan prasarana seperti Jalan Usaha Tani (JUT), akses transportasi dari dan menuju desa-nya, Alsintan dan teknologi air.
Secara khusus soal air, Kades Fidelis Tukan menginformasikan, kalau di desanya, ada 5 sumber mata air (sungai), tetapi air tidak bisa mengalir sampai di lokasi lahan pertanian karena lokasi lahan itu berada atas ketinggian.
“Kami lebih banyak swadaya dan intervensi dari Dana Desa sebesar 20 persen. Kami rencana minimal tanam dan panen dua kali dalam setahun,” katanya.
“Tentu harapan ke depan ada intervensi soal kesulitan/tantangan yang kami alami untuk pertanian berkelanjutan berbasis budaya terkhusus jagung hibrida di Desa Gekeng Deran,” tutup Fidelis Tukan.

Terkait sarana dan prasarana ini, juga disampaikan Ketua BPD Gekeng Deran, Petrus Sina Tukan. “Kami sangat butuh sarana dan prasaran, Alsintan, dll. Kami sudah usul dan berharap ada intervensi,” tambah Petrus Tukan.
Anton Doni Dihen yang saksama mendengar pemaparan dan melihat lokasi lahan jagung mengaku bangga dengan semangat Pata Kia, swadaya, dan kerja cerdas masyarakat Gekeng Deran dibawah pimpinan Kades Fidelis Tukan.
Dia mengaku banyak belajar dan mendapatkan pembelajaran berharga tentang kerja keras, kerja cerdas penuh perencanaan, kearifan lokal yang melekat pada kehidupan masyarakat, pemimpin yang kreatif dan inovatif.
“Ini bukan pekerjaan mudah. Membuka lahan 60 ha di desa yang sangat sulit akses transportasi. Mereka sudah melakukan sesuatu yang luar biasa,” katanya.
“Tinggal dilakukan pendampingan dan intervensi kesulitan yang mereka alami. Ini juga menjadi contoh kuat bagi wilayah lain di Flores Timur untuk maju dan berkembang,” kata Anton Doni Dihen.
Anton Doni Dihen mengapresiasi lompatan berpikir dan kerja masyarakat yang luar biasa tersebut. Dia juga berharap, ada apresiasi dan intervensi lanjutan dari kelompok kepentingan mengatasi kesulitan/tantangan yang masyarakat Desa Gekeng Deran alami.
Secara administratif, Gekeng Deran berada di wilayah Kecamatan Tanjung Bunga. Desa ini dihuni oleh 394 jiwa atau 93 kepala keluarga (KK).
Desa Gekeng Deran berbatasan langsung dengan Laut Flores di bagian utara, Desa Lewobunga di bagian Timur, Desa Ratulodong di bagian selatan dan Desa Lamanabi di bagian barat.
Penelusuran Florespos.net hari itu sungguh luar biasa. Selain jarak tempuh yang cukup jauh dari pusat Kota Larantuka, jalan yang dilalui sangat memprihatinkan.

Ruas jalan sepanjang 11 km itu rusak berat. Jalan rusak berat ini pernah dilalui Anggota DPD-RI, Fadel Muhammad dan Anggota DPD-RI, Angelius Wake Kako. Setidaknya, pada 16 Mei 2023 lalu saat panen perdana.
Ruas jalan rusak berat dan memprihatikan mulai Laka, Desa Kolaka melintas Desa Lewobunga hingga Desa Gekeng Deran. Bukan saja dalam kondisi rusak parah, tapi penuh bebatuan besar. Bahkan, ada yang masih jalan tanah.
Hal yang pasti–untuk saat ini kondisi ini tidak melululantakan semangat Pata Kia atau “segala sesuatu harus di coba dan dimulai” masyarakat setempat.
Semangat Pata Kia tetap hidup dan menjadi roh penggerak bagi masyarakat di desa terpencil, Gekeng Deran. Tentu juga harapannya, Pata Kia bergerak menyebarluas di seluruh Lewotanah, Kabupaten Flores Timur.* (Habis)
Penulis: Wentho Eliando / Editor: Anton Harus










