LABUAN BAJO, FLORESPOS. net -Istilah apartemen tak hanya untuk tempat tinggal buat manusia. Di dunia perikanan ternyata ada juga istilah serupa, khususnya tempat tinggal bagi kepiting.
Di Indonesia khususnya, Kepiting yang hidup dalam apartemen di antaranya di Terang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKP2) Mabar, Fatincy Reinilda, kepada media ini di Labuan Bajo baru-baru ini, membenarkan.
Namun untuk dapat rinciannya, Kadis Reinilda mengarahkan bertemu Sekretaris DKP2 Mabar, Mangayung.
Menurut Mangayung, budidaya kepiting sistim apartemen beda dengan sistim biasa atau rumah biru karena kepiting hidup/piara dalam tambak. Sedangkan sistim apartemen, kepitingnya dibudaya/dipiara dalam kotak/boks khusus yang dibuat/dirancang seperti apartemen.
Mangayung yang didampingi oleh Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya dan P2HP, ungkapkan, budidaya kepiting secara sistim apartemen baru 1 kelompok, 14 orang anggota. Di Mabar kepiting apartemen tergolong baru, umur kelompok ini sekitar 1 tahun, hasil mulai panen, lokasinya di Terang Kecamatan Boleng.
Kepiting yang dibudidaya dalam tambak tingkat kematiannya/mortalitas tinggi. Sedangkan sistim apartemen kebalikan.
Kepiting apartemen berbadan besar/gede, jari-jari jatuh sendiri (mutilasi9. Bentuk tubuh baik, perlakuan bagus karena langsung digoreng kalau mau dikonsumsi dan makan sekali dengan cangkangnya karena lunak.
“Berbeda dengan kepiting biasa ataupun udang. Apabila hendak dikonsumsi harus terlebih dahulu keluarkan kulit/jari-jaringnya,” kata Mangayung.
Setiawan menambahkan, minat budidaya kepiting masyarakat Mabar cukup tinggi, termasuk di Terang.
Pasaran kepiting biasa Rp.70-80 ribu per kilogram (kg), bahkan hingga Rp.120 ribu/kg. Dan harga kepiting apartemen yakni Rp.150 ribu/kg sampai Rp.200 ribu/kg.
Budidaya kepiting apartemen di Mabar baru dikembangkan sekitar setahun terakhir, yaitu 1 kelompok masyarakat di Terang Kecamatan Boleng. Kelompok ini baru saja meminta pendampingan DKP2 Mabar, sebelumnya ditangani satu Yayasan asal Jakarta dan berjalan baik, bagus, tutup Setiawan. *
Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus










