LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah daerah agraris dan salah satu daerah lumbung pangan NTT.
Hanya masih banyak sawah menggunakan saluran irigasi tanah. Tak mengherankan banyak tanaman padinya mengalami kekeringan karena kesulitan air, terlebih di musim kemarau, dan berujung gagal panen.
Tarsi Gonsa, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar di berbagai kesempatan mengatakan, di kabupaten itu sampai tahun 2026 masih banyak sawah mengandalkan irigasi tanah terkait pengairannya, termasuk di daerah irigasi (DI) Lembor.
Sehingga air yang masuk ke petak-petak sawah tidak banyak karena terserap ke tanah sepanjang saluran irigasi.
Di DI Lembor misalnya, untuk saluran sekunder saja masih banyak yang tanah, apalagi saluran tersier. Sehingga aliran air tidak efektif, banyak air yang terserap ke dalam tanah sepanjang selokan.
Air yang sampai di petak-petak sawahnya sisa sedikit, bahkan mungkin ada yang tidak sampai ke petak-petak sawah karena sudah terserap ke dalam tanah sepanjang saluran tanah.
“Akibatnya tanaman padi kekeringan dan tidak menutup kemungkinan bisa berujung pada gagal panen,” ujar Gonsa.
Dampaknya, kata Gonsa, tak sedikit tanaman padi yang sedang dalam fase pertumbuhan/berbunga akan mengalami ancaman kekeringan dan berujung pada penurunan produksi bahkan hingga gagal panen.
Kondisi ini lebih khusus pada musim tanam/panen periode ASep (April-September).
“Belum semua saluran irigasi dibuat permanen dari semen atau masih saluran irigasi tanah, karena pemerintah masih keterbatasan anggaran,” kata Gonsa.
Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada DTPHP Mabar baru-baru ini di Labuan Bajo, juga senada.
“Sawah di Mabar masih banyak yang mengandalkan saluran irigasi tanah, tak terkecuali saluran-saluran sekunder dan tersier di DI Lembor,” katanya.
“Lembor saja yang irigasi teknis di bawah kewenangan Pemerintah Pusat sudah begitu, apa lagi di luar Lembor. Itu fakta,” katanya lagi.
Diungkapkan, di DI Lembor, pada musim tanam/panen periode ASep (April-September) 2026 khususnya, pengairan di persawahan setempat menerapkan sistim bergilir tiga satu, satu hari buka untuk jata tiga hari atau sehari buka tiga hari tidak.
“Itu kesepakatan petani setempat. Meski demikian tetap ada kekeringan. Seluas 16 hektar lebih tanaman padi setempat tetap kering karena kesulitan air,” kata Apen.
Sebelumnya media ini menceritakan, Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat, serta Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 ton. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










