MBAY, FLORESPOS.net-Selain luka fisik dan kehilangan tempat tinggal, dampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores juga memicu tekanan psikologis yang besar bagi para penyintas.
Para ahli kesehatan mental mengingatkan, pemenuhan gizi menjadi salah satu kunci untuk mencegah stres berkepanjangan di masa pengungsian.
dr. Kadek Rolland, Sp.KJ, Psikiater yang bertugas RSUD Aeramo menegaskan bahwa situasi bencana membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi siaga terus-menerus.
“Warga membutuhkan nutrisi yang bagus untuk mencegah stres warga dengan situasi bencana seperti ini. Kalau tidak, nutrisi yang tidak tercukupi akan menyebabkan stres,” ujar dr. Kadek Rolland saat di temui di RSUD Aeramo, Rabu (19/8/2026).
Hubungan Nutrisi dan Kesehatan Mental di Masa Krisis
Menurut dr. Kadek, saat terjadi bencana, otak bekerja ekstra untuk memproses rasa takut, cemas, dan ketidakpastian. Kondisi ini menuntut energi dan zat gizi lebih banyak dari biasanya.
“Ketika seseorang mengalami stres akibat bencana, hormon kortisol meningkat. Kalau tubuh tidak mendapat asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup, maka daya tahan tubuh turun dan regulasi emosi jadi terganggu. Ujungnya mudah cemas, mudah marah, susah tidur, bahkan depresi,” jelasnya.
Ia menyebut kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyintas yang sudah kehilangan anggota keluarga. Tanpa makanan bergizi, mereka berisiko mengalami gangguan psikologis yang berkepanjangan.
“Stres karena bencana itu wajar. Tapi kalau ditambah lapar, kurang tidur, dan kurang gizi, maka stres itu bisa berubah jadi gangguan kecemasan dan trauma yang lebih berat,” tambahnya.
Menu Pengungsian Harus Lebih dari Sekadar Mengenyangkan
dr. Kadek menyarankan agar bantuan logistik di posko pengungsian tidak hanya fokus pada nasi dan mie instan. Ia mendorong adanya variasi makanan yang mengandung protein, sayur, buah, serta air minum yang cukup.
“Yang kita butuhkan di pengungsian itu bukan hanya yang mengenyangkan, tapi yang menutrisi. Ada telur, ikan, kacang-kacangan, sayur, buah. Karena itu bahan bakar untuk otak agar bisa berpikir jernih dan menjaga mood tetap stabil,” katanya.
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 Selanjutnya










