Ia juga mengingatkan pentingnya pola makan teratur. Di pengungsian, banyak warga yang makan tidak teratur karena menunggu distribusi bantuan. Padahal keteraturan makan membantu menstabilkan gula darah dan suasana hati.
Hingga hari ke-4 pascagempa, ribuan warga di Nagekeo, masih bertahan di tenda darurat. Suara gempa susulan, rumah yang rusak, dan kehilangan harta benda membuat banyak warga sulit tidur dan terus merasa waspada.
“Ini yang kita sebut stres akut akibat bencana. Kalau tidak ditangani dari awal, bisa berkembang menjadi PTSD. Makanya selain trauma healing, kita juga harus pastikan perut mereka terisi dengan makanan yang benar,” kata dr. Kadek.
Ia mengapresiasi berbagai pihak yang sudah bergerak menyalurkan bantuan konsumsi. Namun ia berharap ke depan, paket bantuan bisa dirancang lebih bergizi, bukan hanya karbohidrat.
Selain asupan gizi, dr. Kadek menekankan pentingnya dukungan sosial. Mengobrol, berdoa bersama, dan kegiatan di posko dapat membantu menurunkan tingkat stres.
“Keluarga dan relawan punya peran besar. Ajak ngobrol, dengarkan keluh kesahnya. Sambil itu pastikan dia makan. Karena orang yang stres berat biasanya nafsu makannya hilang. Itu lingkaran setan: stres – tidak makan – makin stres,” ujarnya.
Ia juga mengimbau warga untuk tidak mengabaikan tanda-tanda seperti jantung berdebar terus, mimpi buruk, mudah tersinggung, dan menarik diri. Jika berlangsung lebih dari 2 minggu, segera cari bantuan ke tenaga kesehatan atau psikolog di posko kesehatan.
Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan Penanganan kesehatan mental pascabencana tidak bisa hanya mengandalkan tenaga medis. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, relawan, lembaga sosial, dan masyarakat.
“Kita semua harus jadi ‘penjaga’ satu sama lain. Bantu salurkan bantuan, tapi juga bantu jaga kewarasan teman-teman kita. Mulainya dari hal kecil pastikan tetangga di tenda sebelah sudah makan hari ini,” pesan dr. Kadek.
Hingga saat ini, BPBD bersama relawan terus mendata kebutuhan warga di 67 titik pengungsian. Pemenuhan nutrisi dan dukungan psikososial menjadi dua prioritas utama agar para penyintas bisa melewati masa krisis dengan lebih kuat. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










