BAJAWA, FLORESPOS.net-Pekerjaan Preservasi atau pemeliharaan berkala seperti pelapisan ulang aspal (overlay) dan pengisian retak (sealing) yang sedang dikerjakan saat ini pada jalur jalan Gako, Desa Rigi, Desa Solo dan Rowa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo menuju Kota Bajawa, Kabupaten Ngada dikeluhkan oleh sejumlah pengguna jalan.
Pengendara kendaraan yang melayani trayek Boawae-Bajawa kepada Florespos.net, Sabtu (25/4/2026) mengeluh.
Proses pekerjaan tersebut dinilai mengganggu aktivitas perjalanan terutama pengendara baik roda dua maupun roda empat atau kendaraan besar lainnya.
“Jalan yang telah digali dan dibiarkan lubang menganga sungguh sangat menggangu perjalanan,” ungkap Hila, sopir Bemo Syukur.
Menurut Hila, perjalanan menjadi sangat terhambat akibat penggalian belum ditutup dengan aspal. Selain itu ada pula kendaraan berpapasan dan mengambil jalur yang salah hanya karena untuk menghindari lubang yang telah digali.
Hila berharap agar lubang yang telah digali segera ditutup kembali karena seperti yang dilihatnya di wilayah Malanuza, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada sudah hampir dua minggu proses penggalian telah terjadi namun tidak ditutup kembali.
Senada diungkapkan seorang pengendara sepeda motor asal Boawae, Kino. Dia meminta agar proses pekerjaan preservasi jalan itu segera dituntaskan karena bisa mengakibatkan kecelakaan.
“Bila perjalanan dilakukan pada malam hari kondisi hujan maka resiko kecelakaan sangat terbuka. Kita harapkan kontraktor yang mengerjakan jalan tersebut segera melakukan penutupan lubang dengan aspal,” katanya.
Data tertera pada papan, proyek itu dikerjakan PT Wijaya Graha Prima beralamat di Jalan Motang Rua, Mbaumuku, Ruteng, Flores.
Sementara informasi yang ditemukan bahwa Asphalt Mixing Plant (AMP) dan penambangan material milik PT. Wijaya Graha Prima beroperasi di lokasi penambangan Galian C tepatnya di area sungai Dongkong, Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Masih dari papan proyek yang terpampang di Gako Desa Rigi, Kecamatan Boawae tertulis, proyek APBN tersebut dikerjakan oleh PT Wijaya Graha Prima dengan paket proyek pekerjaan yakni preservasi jalan KM 210 – SP Bajawa dan dalam Kota Bajawa, Malanuza – Gako.
Proyek dengan tanggal kontrak 5 Februari 2006 nilai kontrak Rp.17.365.232.000 dengan waktu pelaksanaan 330 hari Klender.
Pimpinan PT. Wijaya Graha Prima, Yohanes Fredi Wijaya saat dihubungi melalui telepon, Minggu (26/4/2026) mengatakan secara detail, pekerjaan ditangani oleh petugas di lapangan.
Dia meminta mendapat informasi yang lebih akurat karena dirinya sedang berada di luar daerah. Namun dia menjelaskan dalam waktu 1 atau 2 hari lagi sudah mulai melakukan produksi aspal untuk menutup lubang yang telah digali tersebut.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Provinsi NTT PPK 3.4, Frangki Simamora dihubungi melalui telepon, Senin (27/4/2026) mengatakan ia sedang dalam perjalanan ke Labuan Bajo.
Kata dia, untuk pekerjaan preservasi jalan yang telah digali dalam waktu dua hari lagi lubang yang telah digali akan ditutup dengan aspal kembali. Ditanya tentang material AMP untuk pekerjaan itu, kata dia kemungkinan besar berasal dari Borong, Manggarai Timur. *
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando










