BENTARA NET: Investasi Peradaban yang Tak Bisa Ditunda - FloresPos Net

BENTARA NET: Investasi Peradaban yang Tak Bisa Ditunda

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 08:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

KABAR dari Bajawa patut diapresiasi (Florespos.net, 23/4/2026) Pelatihan pendampingan anak dan pencegahan kekerasan yang diprakarsai Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada, Senin (22/4/2026), menandai adanya penguatan sebuah kesadaran kolektif.

Apa itu? Bahwasanya, perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Bupati Raymundus Bena dan Ketua TP PKK Blandina Mamo Bena secara tegas menempatkan anak sebagai ‘investasi bangsa’ yang wajib dijaga dari segala bentuk kekerasan.

Pernyataan Blandina Mamo Bena memuat pesan yang fundamental. Anak harus mampu mengenali diri, melindungi perasaan, dan menjadi ‘protector’ utama bagi dirinya sendiri. Ini merupakan strategi preventif yang membangun ketahanan internal anak sejak dini. Ketika anak paham hak-haknya, mereka tidak mudah menjadi korban, sekaligus tidak terbiasa melanggar hak orang lain.

Nelson Mandela pernah berkata, “There can be no keener revelation of a society’s soul than the way in which it treats its children.” Tak ada cara lebih tajam untuk membaca jiwa suatu masyarakat selain dari cara mereka memperlakukan anak-anaknya.

Kalimat ini relevan direnungkan di tengah masih tingginya angka kekerasan terhadap anak di berbagai daerah. Jika kita ingin menilai kualitas peradaban di sebuah wilayah atau Indonesia pada umumnya, lihatlah bagaimana anak-anak diperlakukan di rumah, sekolah, dan ruang publik.

Kekerasan terhadap anak tidak selalu berwujud fisik. Ia bisa nampak pula dalam kata-kata yang merendahkan, emosi anak yang diabaikan, hingga harapan yang berlebihan yang membebani psikis sang anak, apalagi di luar batas kemampuannya. Semuanya bisa saja terjadi di rumah, sekolah dan lingkungan sosial anak.

Baca Juga :  Festival Nagekeo One Be 2025, Ruang Sosial untuk Ekonomi Kreatif dan Identitas Lokal

Trauma masa kecil bukan bekas yang mudah hilang. Ia bisa menghambat potensi, merusak relasi sosial, dan pada akhirnya membebani pembangunan sumber daya manusia. Kekerasan model ini dampaknya bisa terbawa hingga dewasa. Maka, Bupati Raymundus benar ketika menegaskan bahwa rumah, sekolah, dan lingkungan harus menjadi zona aman bagi tumbuh kembang anak.

Pelatihan bagi guru dan tenaga kesehatan di Kecamatan Jerebuu ini menjadi langkah konkret yang patut ‘digandakan’. Guru dan nakes berada di garis depan yang sering kali pertama kali mendeteksi tanda-tanda kekerasan atau gangguan pada anak. Dengan kapasitas yang memadai, mereka dapat menjadi jembatan antara anak, keluarga, dan sistem perlindungan yang lebih luas.

Untuk urusan ini, diperlukan program berkelanjutan, evaluasi berkala, serta integrasi materi pencegahan kekerasan dalam kurikulum pendidikan dan protokol layanan kesehatan. Tidak hanya melalui pelatihan satu kali dan berhenti pada kata ‘cukup’.

Momentum pelatihan di Jerebuu hendaknya menjadi pemantik gerakan lebih luas. Setiap kecamatan, setiap desa, setiap sekolah perlu memiliki program serupa yang disesuaikan dengan konteks lokal. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, dan sektor swasta akan memperkuat dampak positifnya.

Baca Juga :  Saatnya Menegaskan Etos Pelayanan

Namun, peran keluarga tetap sentral. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Akan tetapi Blandina memberi wanti-wanti. Bahwa, tanggung jawab ini tidak boleh dibebankan hanya pada pundak orang tua dan guru. Desa, tokoh agama, media, dunia usaha, hingga pemerintah daerah harus bersinergi menciptakan ekosistem yang ramah anak. Regulasi perlu ditegakkan, layanan pengaduan harus mudah diakses, dan ‘budaya diam’ terhadap kekerasan harus dihentikan.

Sejatinya, anak yang tumbuh dalam lingkungan aman dan penuh kasih akan berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, empatik, dan produktif. Mereka adalah calon pemimpin, inovator, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan di masa depan. Melindungi mereka hari ini sama dengan menyiapkan fondasi kokoh bagi kemajuan Ngada dan Indonesia esok.

Dan, perlindungan anak bukan program tambahan dalam agenda pembangunan. Ia adalah inti dari pembangunan itu sendiri. Ketika anak terlindungi, terpenuhi hak-haknya, dan diberi ruang untuk berkembang optimal, maka investasi bangsa ini akan berbuah generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Seperti pesan Mandela, cara kita memperlakukan anak adalah cermin jiwa masyarakat. Mari pastikan cermin itu memantulkan wajah kasih sayang, keadilan, dan harapan. Bukan luka dan derita yang tersembunyi. *

Berita Terkait

BENTARA NET: Sekolah Rakyat dan Ketimpangan Struktural
BENTARA NET: Mengimpikan Rumah Layak Huni
BENTARA NET: Kanopi Suci, Semana Santa dan Ikhtiar Menjadi Peziarah Sejati
BENTARA NET: Cahaya yang Menyatukan
BENTARA NET: Sampah, Tanggung Jawab dan Keberadaan Bersama
BENTARA NET: Pintu Air yang Mengalirkan Keadilan
BENTARA NET: Sinergi Kolektif Menjawab Tantangan
BENTARA NET: Jalan Pulang Menuju Kebaikan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 08:37 WITA

BENTARA NET: Investasi Peradaban yang Tak Bisa Ditunda

Sabtu, 18 April 2026 - 08:02 WITA

BENTARA NET: Sekolah Rakyat dan Ketimpangan Struktural

Sabtu, 11 April 2026 - 08:44 WITA

BENTARA NET: Mengimpikan Rumah Layak Huni

Minggu, 29 Maret 2026 - 15:14 WITA

BENTARA NET: Kanopi Suci, Semana Santa dan Ikhtiar Menjadi Peziarah Sejati

Senin, 23 Maret 2026 - 16:30 WITA

BENTARA NET: Cahaya yang Menyatukan

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Investasi Peradaban yang Tak Bisa Ditunda

Sabtu, 25 Apr 2026 - 08:37 WITA

Nusa Bunga

Kemandirian Fiskal Daerah Butuh Transformasi Ekonomi

Sabtu, 25 Apr 2026 - 08:31 WITA