LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Divers Alert Network (DAN) Indonesia didukung oleh The National Association of Underwater Instructors (NAUI) berkolaborasi bersama Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) resmi menggelar kegiatan “Edukasi Keamanan dan Keselamatan Wisata Bahari Labuan Bajo”.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (14-15/4/2026), melibatkan total 100 peserta dibagi dalam dua hari kegiatan, pelaku wisata selam, mulai kru selam, dive guide, kru kapal, asosiasi penyelam, dan kapal wisata, serta pemerintah daerah sektor pariwisata.
Kegiatan kolaboratif yang diinisiasi oleh Divers Alert Network (DAN) dengan visi “Diving Safety 1000 Initiatives” ini merupakan program dengan visi penguatan kapasitas bagi pelaku usaha wisata bahari yang berfokus pada peningkatan keselamatan dan keamanan aktivitas wisata selam.
Kegiatan yang diadakan di Kantor BPOLBF ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat fondasi keselamatan wisata bahari di Labuan Bajo dan sekaligus merespon kebutuhan mitigasi risiko terkait transportasi laut, seiring meningkatnya dinamika aktivitas wisata berisiko tinggi (high-risk) seperti diving, snorkeling, dan perjalanan kapal wisata.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya transformasi menuju “Pariwisata Naik Kelas” yang tidak hanya menonjolkan keindahan alam, tetapi juga menjamin keamanan dan keselamatan wisatawan.
Belajar dari pengalaman menghadapi kondisi cuaca ekstrem serta berbagai dinamika operasional di lapangan, seluruh pemangku kepentingan menyadari bahwa reputasi Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia harus ditopang oleh sistem mitigasi risiko yang kuat, terstandar, dan berkelanjutan.
Hal ini perlu didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten, khususnya di sektor wisata bahari, melalui pemenuhan standar keselamatan, kepemilikan sertifikasi Emergency First Response (EFR), serta pemahaman yang komprehensif terkait manajemen risiko dalam setiap aktivitas wisata.
Kegiatan Edukasi Diving Safety hari pertama ini dipimpin langsung oleh para instruktur berpengalaman dari NAUI dan melibatkan 50 orang peserta yang merupakan pelaku wisata selam dari berbagai asosiasi Pariwisata di Labuan Bajo seperti P3KOM, ASKAWI, dan DOCK, Gahawisri, JANGKAR, ASET, Guide snorkeling, HPI (Himpunan Pariwisata Indonesia), dan Sekber Kepariwisataan Labuan Bajo.
Selain itu, kegiatan hari pertama ini juga dihadiri secara langsung oleh Mr. William Tong, selaku NAUI Training Manager Asia Pacific, Basarnas, Sat Polairud Labuan Bajo, Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kab. Manggarai Barat, Perguruan tinggi atau sekolah pelayaran, dan Dokter/rumah sakit di Labuan Bajo.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, dalam sambutannya menegaskan pentingnya keselamatan sebagai fondasi utama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.
“Sebagai destinasi prioritas, kita tidak dapat hanya mengandalkan keindahan alam tanpa diiringi jaminan keamanan yang memadai. Karena itu, pertemuan hari ini menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi keselamatan sebagai bagian integral dari pengelolaan destinasi,” ujar Andhy saat membuka kegiatan pada Selasa (14/4/2026) lalu.
“Kami menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pelaku pariwisata yang berada di garda terdepan dalam memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keselamatan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang.
“Keamanan adalah investasi, bukan beban biaya. Dengan sinergi antara Kementerian Pariwisata, BPOLBF, Divers Alert Network, dan seluruh pelaku industri, kita ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa Labuan Bajo adalah destinasi yang indah, sekaligus aman dan bertanggung jawab,” tambah Andhy.
Sementara itu, Country Manager DAN Indonesia, Bayu Wardoyo, menyampaikan komitmen DAN dalam mendukung peningkatan standar keselamatan wisata bahari di Indonesia, khususnya di Labuan Bajo.
“Kami melihat Labuan Bajo memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan SDM yang memahami aspek keselamatan secara menyeluruh. Melalui program ini, kami ingin memastikan bahwa setiap pelaku wisata memiliki kemampuan dasar dalam penanganan keadaan darurat serta memahami pentingnya manajemen risiko di setiap aktivitas wisata bahari,” jelas Bayu.
Ia lebih lanjut menekankan bahwa edukasi dan pelatihan berkelanjutan merupakan kunci dalam menciptakan ekosistem wisata bahari yang aman dan profesional.
“Kedepannya, tidak hanya pelaku wisata bahari yang kami targetkan memiliki kemampuan dasar untuk penanganan darurat terhadap risiko aktivitas bahari, namun juga dukungan peningkatan kemampuan dasar bagi tenaga medis yang ada di Labuan Bajo, agar dapat mendukung penanganan masa krisis bagi para korban risiko wisata bahari,” ungkap Bayu.
Kegiatan Edukasi Keamanan dan Keselamatan Wisata Bahari tersebut diharapkan dapat menjadi tonggak awal dalam membangun standar keselamatan nasional yang lebih kuat.
Sekaligus mendorong Labuan Bajo sebagai destinasi yang tidak hanya unggul dalam pelayanan dan daya tarik, tetapi juga menjadi rujukan dalam penerapan standar keselamatan wisata bahari di Indonesia. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










