MAUMERE, FLORESPOS.net-Kedua orang tua korban Stevania Trisanti Noni, kakak kandung korban, perwakilan 10 suku di Rumanduru, Desa Rubit Kecamatan Hewokloang serta PMKRI Cabang Maumere St.Thomas Morus mendatangi Gedung DPRD Sikka.
Kedatangan ratusan warga Kabupaten Sikka ini guna mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait kasus pembunuhan Noni, siswi SMPK MBC Ohe berusia 14 tahun yang kasus hukumnya sedang ditangani Polres Sikka.
Perwakilan keluarga, perwakilan 10 suku dan PMKRI Maumere memaparkan beberapa bukti dan kejanggalan yang mereka temukan dalam penanganan kasus meninggalnya Noni.
“Dari beberapa bukti yang belum ditemukan dan adanya kejanggalan maka dapat disimpulkan kasus ini merupakan pembunuhan berencana,” tegas Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Maumere, Johan De Brito Papa Naga saat RDP, Jumat (27/3/2026).
Johan mengatakan, penanganan kasus ini harus dimulai dengan melihat profil orang tua pelaku dan jika dibandingkan dengan kondisi jenasah ditemukan maka bisa disimpulkan adanya pembunuhan berencana.
Dirinya mempertanyakan apakah ada intervensi dari pihak lain terkait penanganan kasus ini ataukah aparat Polres Sikka tidak profesional dalam mengungkap kasus pembunuhan ini.
Pihaknya meminta agar tolong dicek orang yang menampung pelarian pelaku bahkan ada tidak orang yang membiayai pelarian pelaku hingga ke Kabupaten Ende.
“Kami meminta para saksi diperiksa terkait dengan apakah benar pelakunya anak ataukah ada eksekutor lain.Kami minta agr rekonstruksi dilakukan di tempat kejadian perkara sebab kalau di tempat lain maka kasus ini lama-lama tambah kabur,” tegasnya.
PMKRI Cabang Maumere mendorong agar digunakan pasal pembunuhan berencana dan pelaku pembunuhan bukan hanya 3 orang yang sudah ditetapkan tersangka.
Johan menyebutkan, pihaknya mendesak agar alat-alat bukti yang belum ditemukan seperti pakaian, rambut, telepon genggam dan 3 jari tangan korban segera ditemukan.
Dirinya bertanya, apakah karena orang tua korban merupakan orang tidak mampu sehingga mudah dipermainkan kasus hukum yang mengakibatkan anak mereka meninggal dunia?.
“Kapolres Sikka dalam proses penanganan kasus ini tidak hadir dan memberikan klarifikasi kepada publik maka kami mendesak agar pecat saja Kapolres Sikka. Lengkapi dulu barang buktinya dan kalau polisi tidak mampu maka lepas saja pelaku sehingga keluarga korban yang meminta mereka mencarinya,” ucapnya.
Pascal perwakilan suku di Rumanduru menegaskan pihaknya ingin menyampaikan beberapa hal yang sudah dibicarakan 10 suku di Rumanduru.
Dia menyebutkan, disamping perasaan sakit yang mereka alami, ada banyak kekecewaan yang juga mereka alami terkait kinerja kepolisian Polres Sikka terkait barang bukti yang hingga saat ini belum ditemukan.
“Ketika berada di TKP kami menemukan jenasah rambutnya tidak ada. Pertanyaan kami rambutnya ada dimana, logika kami apakah dalam waktu 3 malam apakah rambut bisa lepas dari kepala?,” ucapnya.
Pascal menyebutkan, telepon genggam korban pun sampai detik ini belum ditemukan, dimana telepon genggam korban?, kenapa tidak dicari tahu siapa yang menyembunyikannya?.
Dia mengatakan, korban sempat menelepon keluarga sebelum dibunuh sehingga dari telepon genggam polisi bisa menemukan komunikasi korban termasuk juga melacak komunikasi pelaku dengan orang lain dan keluarganya.
“Saat ditemukan kondisi jenasah tanpa busana dan kulit di tubuh korban terkelupas. Pertanyaannya dimana pakaian korban. Kalau 3 tersangka tidak tahu pasti ada saksi lain yang mengetahuinya,” tuturnya.
Pascal juga mempertanyakan 3 jari tangan korban hilang dan dia katakan bisa jadi tidak mungkin hilang di lokasi penemuan jenasah sehingga korban dimakamkan dalam kondisi ketiga jari tangannya tidak ada.
Selain itu tambahnya, darah juga tidak ditemukan di lokasi penemuan jenasah dan pihaknya menduga pasti ada pihak lain yang membersihkannya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










