Oleh: Ansel Atasoge
MALAM itu, Larantuka bersinar berbeda. Bukan karena lampu-lampu kota yang semakin modern, melainkan ribuan obor yang dibawa remaja masjid melintasi jalan-jalan kota.
Jumat malam, 20 Maret 2026, ribuan langkah kaki membawa cahaya dari kantor Bupati Flores Timur menuju Masjid As-Shamad Postoh.
Momen ini bukan pawai-pawai biasa. Ini adalah pesan. Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh perbedaan, Larantuka menunjukkan sesuatu yang langka. Harmoni antara ruang pemerintahan dan ruang ibadah, antara negara dan agama, antara tradisi dan modernitas.
Ketika Bupati Antonius Doni Dihen hadir bersama ribuan remaja, ketika Kepala Kantor Kemenag Yosef Aloysius Babaputra turut serta, ketika TNI, Polri, dan Satpol PP mengawal dengan khidmat, yang kita saksikan sebuah kisah yang lebih jauh dari atraksi protokol. Itu adalah simbol. Simbol bahwa negara hadir bukan untuk mengatur, tetapi untuk merangkul.
Mari kita jujur. Di banyak tempat, perayaan malam takbir sering kali direduksi menjadi sekadar pesta kembang api atau konvoi kendaraan yang bising. Tapi Larantuka memilih jalan berbeda.
Pawai obor ini adalah afirmasi bahwa kegembiraan menyambut Idul Fitri bisa dirayakan dengan cara yang bermakna, yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sekaligus dengan sesama dan dengan negaranya.
Cahaya obor yang bergoyang dalam genggaman remaja-remaja masjid itu adalah metafora yang indah. Ia adalah cahaya iman yang diteruskan dari generasi ke generasi. Ia adalah semangat yang tak boleh padam. Dan yang paling penting, ia adalah simbol bahwa kaum remaja dan pemuda Islam hadir sebagai aktor penting dalam membangun peradaban.
Sering kali kita mendengar istilah ukhuwah atau persaudaraan hanya sebagai slogan di mimbar-mimbar. Tapi di Larantuka, ukhuwah itu hidup. Ia berjalan. Ia berkeringat. Ia nyata.
Ketika ribuan orang dari berbagai latar belakang berjalan bersama dalam satu barisan, ketika pemerintah dan masyarakat bahu-membahu dalam satu acara, ketika keamanan dan kekhusyukan ibadah berjalan beriringan, di situlah ‘ukhuwah wathaniyah’ atau persaudaraan kebangsaan dan ‘ukhuwah diniyah’ atau persaudaraan keagamaan menyatu.
Ini adalah modal sosial yang tak ternilai harganya di tengah masyarakat yang semakin individualistis. Para pemikir Islam seperti Muhammad Chirzin telah lama menegaskan bahwa tanpa jaringan silaturahim yang kuat, komunitas Muslim akan kehilangan daya hidupnya. Larantuka membuktikan hal itu.
Pawai obor ini karenanya tidak berhenti pada agenda sekadar ritual tahunan. Sejatinya, ia adalah strategi membangun solidaritas, memperkuat identitas, dan merawat kebinekaan.
Yang paling mengesankan dari peristiwa ini adalah siapa yang menjadi aktor utamanya yakni para remaja masjid. Mereka tidak hadir hanya sebagai peserta. Mereka adalah pemegang obor, secara harfiah dan metaforis.
Ini sejalan dengan pemikiran Misbahul Wani yang menekankan bahwa pemuda adalah aset terpenting dalam agama dan bangsa. Mereka adalah bibit peradaban. Tapi bibit hanya akan tumbuh jika diberi ruang, dipercaya, dan dilibatkan.
Larantuka memberikan ruang itu. Pemerintah daerah tidak hanya memberi izin, tetapi hadir mendampingi. Ini adalah model pemberdayaan pemuda yang seharusnya ditiru daerah lain. Kita sering mengeluh tentang degradasi moral pemuda, tentang hilangnya semangat perjuangan, tentang generasi yang apatis.
Tapi mungkin pertanyaannya bukan pada pemudanya, melainkan pada kita. Apakah kita memberi mereka ruang untuk berproses? Apakah kita percaya pada mereka? Larantuka menjawab, ya!
Apa yang terjadi di Larantuka seharusnya menjadi inspirasi bagi seluruh Indonesia. Di tengah polarisasi politik dan sosial yang semakin tajam, kita butuh lebih banyak ruang-ruang seperti ini. Ruang di mana agama dirayakan tanpa mengecualikan, di mana negara hadir tanpa mendominasi, di mana tradisi dipertahankan tanpa menolak perubahan.
Pawai obor Larantuka mengajarkan kita bahwa integrasi sosial tidak dibangun dengan pidato-pidato bombastis, tetapi dengan aksi-aksi nyata yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat. Ia dibangun dengan cahaya obor yang diteruskan dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi.
Karena itu, malam takbir di Larantuka bukan hanya tentang menyambut Idul Fitri. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia masih punya harapan. Bahwa masih ada tempat di mana pemuda, agama, dan negara berjalan bersama. Bahwa masih ada cahaya yang terus dinyalakan di tengah kegelapan.
Tugas kita sekarang adalah memastikan cahaya itu tidak padam. Bahwa obor yang dibawa remaja Larantuka itu menginspirasi daerah lain untuk melakukan hal serupa.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya pembangunan infrastruktur, tetapi pembangunan karakter, pembangunan solidaritas, dan pembangunan harapan.
Dan semua itu bisa dimulai dari cahaya kecil sebuah obor yang dibawa dengan penuh keyakinan di malam takbir.*










