Oleh: Florentina Ina Wai
FENOMENA emosional sering kali muncul saat seorang wanita menatap potret dirinya dari bertahun-tahun lalu di galeri ponsel; sebuah rekaman visual tentang sosok dengan binar mata lepas dan eksistensi yang belum terikat oleh beban domestik.
Dialog imajiner bertajuk “Apa kabarmu?” yang kerap dijawab dengan helaan napas “Kabarku baik-baik saja” di tengah riuh rendah pengasuhan, bukanlah sekadar narasi melankolis.
Secara sosiologis dan psikologis, ini merupakan manifestasi dari sebuah fase transisi identitas yang kompleks. Realitas ini dapat dijelaskan melalui analogi biologis The Flamingo Era.
Dalam dunia ornitologi, burung Flamingo dikenal karena pigmentasi merah mudanya yang memukau, namun terdapat fakta mendalam saat mereka mengasuh bayinya: warna ikonik tersebut perlahan memudar menjadi putih keabu-abuan.
Hal ini terjadi karena Flamingo menyalurkan seluruh cadangan karotenoid atau pigmen warna dari tubuh mereka ke dalam crop milk demi menghidupi keturunannya. Mereka secara sukarela merelakan warna dirinya luntur agar sang anak bisa tumbuh berwarna.
Analogi ini merefleksikan realitas eksistensial seorang ibu yang sering kali mengalokasikan waktu, energi, hingga sebagian besar “serpihan jati dirinya” demi pertumbuhan anak. Kelelahan fisik dan emosional yang muncul kemudian menciptakan persepsi bahwa diri yang dulu bercahaya kini telah meredup.
Namun, secara ilmiah, perasaan “kehilangan diri sendiri” ini divalidasi melalui konsep Matrescence. Istilah yang diperkenalkan oleh antropolog Dana Raphael ini menjelaskan bahwa transisi menjadi ibu adalah perubahan identitas paling drastis dalam siklus hidup manusia, dengan intensitas yang setara dengan masa remaja.
Hal ini diperkuat oleh teori psikoanalis Donald Winnicott mengenai Primary Maternal Preoccupation, sebuah kondisi di mana fokus seorang ibu menyempit secara alami agar ia bisa fokus sepenuhnya pada kebutuhan bayi.
Dengan demikian, pudarnya warna diri bukanlah indikasi kehancuran identitas, melainkan sebuah tugas evolusi besar di mana seorang ibu meminjamkan “pigmen” jiwanya untuk membangun fondasi mental manusia baru.
Penting untuk disadari bahwa Flamingo Era merupakan fase yang bersifat temporer. Sebagaimana burung Flamingo akan mendapatkan kembali warna merah mudanya setelah anak-anak mereka mandiri, seorang ibu pun akan melalui proses yang disebut sebagai Integrasi Identitas.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










