LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menggenjot penemuan dan penanganan kasus Tuberkulosis (TBC) di daerah itu guna mencapai target eliminasi.
Hingga Oktober 2024, capaian kasus yang ditemukan dan diobati telah melampaui 50% dari target tahunan.
Adrianus Ojo, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Barat mengatakan itu kepada Florespos.net baru-baru ini di Labuan Bajo.
Saat itu dia memaparkan situasi terkini penyakit TBC di Mabar, mulai dari angka kasus, ketersediaan obat, hingga upaya kolaboratif yang dilakukan.
Diungkapkan, kasus TBC pada periode Januari-Oktober 2024, Dinkes Mabar telah menemukan dan menangani 537 kasus. Angka ini mencapai 61% dari target nasional sebanyak 880 kasus untuk tahun 2024.
Untuk tahun 2025, katanya, Dinkes telah memproyeksikan penemuan kasus. Hingga Oktober (2025), pihaknya telah menemukan 487 kasus atau 55,45% dari target 878 kasus.
“Ini menunjukkan komitmen kita yang berkelanjutan,” jelas Kadis Ojo.
Menurut Kadis Ojo, proses penanganan TBC di Manggarai Barat berjalan tanpa kendala yang signifikan. Setiap kasus yang ditemukan langsung diberikan pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
Kunci dari kelancaran penanganan ini adalah kolaborasi dan integrasi yang solid dari Tim TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes).
Dukungan tenaga dokter spesialis di rumah sakit sangat memantu dalam proses penemuan, pemeriksaan, dan pengobatan kasus TBC dari hulu ke hilir, tegasnya.
Ia juga mengatakan bahwa ketersediaan OAT di Manggarai Barat sangat mencukupi untuk mendukung pengobatan semua pasien.
“Obat TBC kami distribusikan secara rutin dari Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Stok kami aman dan cukup, sehingga tidak ada alasan untuk terhambatnya pengobatan,” tandas Kadis Ojo.
Masih dia, data Dinkes Mabar menunjukkan bahwa kelompok usia paling rentan pada 2025 adalah lansia di atas 65 tahun, dengan 49 kasus (15,12%).
Dari sisi sebaran geografis, Puskesmas Labuan Bajo menjadi wilayah dengan penemuan kasus tertinggi, yaitu 259 kasus pada 2024 dan 78 kasus pada 2025.
Sementara itu, kasus terendah pada 2024 ditemukan di Puskesmas Compang (2 kasus) dan pada 2025 di Puskesmas Komodo (2 kasus).
Kadis Ojo mengimbau seluruh Fasyankes, termasuk rumah sakit, puskesmas, dan klinik, untuk memperkuat kerja sama.
Pihaknya mendorong sinergi lintas program dan lintas sektor dalam penjaringan, penemuan, dan pengobatan TBC. Strategi seperti ‘Ketuk Pintu’, Investigasi Kontak, Active Case Finding (ACF), Gerakan Sisir Tuberkulosis, dan kegiatan terintegrasi lainnya harus dioptimalkan.
“Mari bersama-sama wujudkan Manggarai Barat yang bebas TBC,” pungkasnya.
Upaya komprehensif ini diharapkan dapat terus mendongkrak angka penemuan kasus dan kesembuhan pasien, menuju target eliminasi TBC di Manggarai Barat, tutup Kadis Ojo. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wall Abulat










