LARANTUKA, FLORESPOS.net-Dampak abu vulkanik erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki bagi 544 warga Desa Nurabelen di Kecamatan Ilebura yang mengungsi di Kantor Desa Riang Rita, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin nyata.
Pendata dan penanganan kesehatan di Desa Riang Rita mencatat, 13 dari 544 orang warga Desa Nurabelen mengungsi di Kantor Desa Riang Rita, Rabu (10/1/2024), sudah terserang gangguan infeksi pernapasan atau ISPA.
“Ada 13 orang ISPA, 1 orang stroke, 3 orang hipertensi, 1 orang rematik,” kata Maria Yuvensia, Tenaga Kesehatan Poskesdes Desa Riang Rita yang mendata dan menanggani kesehatan warga Desa Nurabelen yang mengungsi di Kantor Desa Riang Rita, Rabu (10/1/2024) sore.
Selain gangguan kesehatan itu, kata Maria Yuvensia, ada 6 orang ibu hamil dari Desa Nurabelen, awalnya juga mengungsi di Kantor Desa Riang Rita.
“Ke-6 orang ibu hamil ini, tadi (Rabu, 10/1/2024, Red) siang sudah dijemput langsung oleh keluarga ke Larantuka dan Lewolaga,” kata dia.
Penelusuran Florespos.net, Rabu siang hingga malam, sedikitnya 544 warga Desa Nurabelen, baik laki-laki, perempuan, tua muda, dan anak-anak mengungsi di Kantor Desa Riang Rita, pasca erupsi dahsyat pada Selasa (9/1/2024) pukul 23.00 Wita dan Rabu (10/1/2024) pukul 02.31 Wita dini hari.
Ratusan warga itu tidur beralaskan terpal dan kain seadanya di lantai ruangan Balai Desa dan Poskesdes Riang Rita. Petugas Kesehatan dan anggota Polisi tampak berada di Balai Desa Riang Rita mengurus ratusan warga tersebut.
Lukas Reten Kenoba, salah satu warga Desa Nurabelen yang mengungsi di Kantor Desa Riang Rita, Rabu sore mengaku mengungsi dan berada di Kantor Desa Riang Rita sejak Selasa (9/1/2024) malam.
“Bunyi gemuruh besar sekali dan ada keluar api di Gunung Lewotobi Laki-laki membuat kami menjauh mencari tempat aman,” kata Lukas Reten Kenoba.
Sebagaimana disaksikan Florespos.net, wilayah Desa Nobo dan Desa Nurabelen yang berada di pesisir pantai bagian timur selatan itu dikepuli asap dan berlumuran abu vulkanik.
Jika berada di Desa Nobo dan Desa Nurabelen, terdengar jelas bunyi gemuruh yang sangat besar dari Gunung Lewotobi Laki-laki dan bau belerang yang menyengat.
Rumah-rumah warga di dua desa itu nyaris kosong tanpa penghuni. Terlihat, hanya beberapa orang muda dan orang tua duduk di halaman rumah dalam posisi awas.
Hingga Rabu malam, ratusan warga Desa Nurabelen yang mengungsi di Kantor Desa Riang Rita, itu belum dipindahkan ke Posko Konga atau posko lain untuk mendapatkan tempat pengungsian dan penanganan yang baik.
Data sementara yang dihimpun Rabu (10/1/2024) pagi, warga terdampak langsung secara keseluruhan yang mengungsi berjumlah 5.057 jiwa.
Jumlah ini belum termasuk warga terdampak langsung yang mengungsi pasca erupsi dahsyat disertai lontaran lava pijar Selasa dan Rabu.
Selain rumah warga di Desa Hewa, Desa Boru Kedang dan Desa Pululera, warga terdampak mengungsi terpusat di Posko SMPN Wulanggitang, Boru, Kecamatan Wulanggitang dan Kantor Desa Konga, Kecamatan Titehena.
Data sementara yang dihimpun Florespos.net, Rabu (10/1/2024) malam, dari 5.057 orang tersebut, 45 orang di Posko Kantor Desa Konga dan 785 orang di Posko Boru terserang gangguan pernapasan atau ISPA. *
Penulis: Wentho Eliando I Editor: Anton Harus










