LARANTUKA, FLORESPOS.net-Semana Santa atau Pekan Suci, dalam terminologi Gereja Katolik universal merupakan puncak dari perayaan liturgi yang sarat makna salvifik.
Dalam peristiwa iman ini, Gereja sejagat memperingati dan merayakan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus sebagai inti dari karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.
Dalam bukunya Semana Santa di Larantuka, Sejarah dan Liturgi Uskup Larantuka Mgr.Yohanes Hans Monteiro menyebutkan, Semana Santa di Larantuka bukan sekadar perayaan liturgis, melainkan juga ekspresi budaya lokal yang telah menyatu dengan iman Katolik selama berabad-abad.
Semana Santa dipahami sebagai buah dari pertemuan iman Katolik dengan budaya lokal, yang kemudian bertransformasi menjadi identitas religius masyarakat Larantuka.
Oleh karena itu, Semana Santa bukan hanya bentuk devosi, melainkan juga budaya yang hidup, yang mewariskan daya spiritual dan iman lintas generasi.
Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Larantuka Romo Hendrik Leni, Pr menyebutkan biasanya masuk Semana Santa kita buka dengan Lamentasi di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka dan Trewa di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana.
Dalam general repetition di Istana Raja Larantuka Rabu (1/4/2026) malam Romo Hendrik mengatakan, kegiatan lalu dilanjutkan dengan General Repetition di Istana Raja Larantuka, dan berbagai rangkaian kegiatan hingga puncaknya pada Paskah.
“Kegiatan sepanjang Semana Santa ini dilaksanakan dalam kerjasama pemerintah, raja dan suku sukunya serta Gereja Katolik,” ujar Vikjen Keuskupan Larantuka Romo Hendrik Leny, Pr, Rabu (1/4/2026) malam.
Romo Hendrik mengatakan, pemerintah menjamin kegiatan berjalan sukses dan pemerintah terlibat langsung dalam menjaga agar segalanya bisa berjalan dengan baik sebab hajatan ini bukan hanya milik gereja tetapi pemerintah.
Ia menyebutkan, Nagi Lewotana dan gereja mempercayakannya di bawah keluarga raja dan semua pelaku devosi yang ada di Kota Reinha Larantuka ini.
Menurutnya, semua proses ini sesungguhnya tradisi gereja dan adat yang sudah masuk ke dalam iman gereja sehingga gereja melibatkan keluarga raja untuk mengatur berbagai kegiatan devosi.
“Ini tradisi iman sehingga dia tetap ada di bawah gereja. Ketika kegiatan devosi masuk kedalam liturgi sehingga ditata dengan baik,” ucapnya.
Romo Hendrik mengakui kepada keluarga raja hormat itu selaku diberikan untuk melaksanakan kegiatan ini, untuk mengaturnya bersama konferia dan suku semana selama 40 hari.
Dia menyebutkan, penataan seluruh devosi dimasukan ke dalam tata urutan gereja Katolik dan apapun keinginan dan harapan kita semua berjuang agar tradisi ini berjalan dengan baik dan terjaga.
“Gereja mempunyai kewajiban juga menjaga tradisi. Orang dari manapun yang datang menikmati perayaaan ini bisa mengikuti dengan baik segala rangkain kegiatan devosi dan liturgi. Tradisi dan liturgi berjalan bersama,” ungkapnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










