RUTENG, FLORESPOS.net – Keterlibatan Gereja Keuskupan Ruteng dalam isu ekologis tidak sekedar didorong oleh krisis lingkungan yang dasyat, tetapi terutama oleh perutusan jati dirinya.
Sebagai persekutuan umat Allah yang bersumber dari persekutuan trinitaris, Gereja wajib terlibat memperjuangkan dan bergerak menuju keutuhan dan pelestarian ciptaan.
Ketika membawakan materi bertajuk ‘Menuju Persaudaraan Universal Ciptaan (Refleksi Teologis-Etis Ekologis Integral) dalam sidang post Natal di Wae Lengkas, Ruteng, Selasa (9/1/2024), Direktur Puspas Keuskupan Ruteng, Rm. Marthin Chen menyatakan hari-hari ke depan ini, hidup dan karya pastoral Gereja harus berciri ekologis.
“Hal itu harus terungkap dalam pelbagai dimensi kehidupan pastoral,” katanya.
Dimensi kehidupan itu seperti liturgi ekologis. Liturgi yang selama ini hanya dipahami sebagai perayaan perjumpaan Allah dan manusia, perlu diperluas dan diperdalam sebagai perayaan perjumpaan Allah dengan semesta ciptaan.
Hal ini sebetulnya sudah terwujud, dengan penggunaan simbol-simbol alam dalam perayaan liturgi. Air yang digunakan dalam pembaptisan, minyak yang dipakai dalam krisma dan tahbisan, roti dan anggur dalam Ekaristi merupakan simbol-simbol alam yang menjadi media kehadiran Allah di tengah umat-Nya.
Dimensi ekologis dari simbol-simbol sakral ini perlu disadari, dihidupi secara integral dalam perayaan liturgi Gereja.
Alam tidak hanya dipakai sebagai alat liturgi, tetapi sungguh “terlibat” dalam memuliakan Allah. Bukan hanya manusia yang memuji Allah, tetapi “biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak sorai”.
Dengan itu liturgi ekologis tidak sekedar berarti penggunaan lebih banyak unsur alam dalam liturgi, tidak juga hanya berarti pengusungan tema-tema ekologis dalam liturgi (ibadat ekologis penanaman pohon, berkat panen, dan lain-lain).
Liturgi ekologis berarti perayaan persaudaraan semesta ciptaan yang bersujud di hadapan Sang Khalik, dan dengan itu berpartisipasi dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal.
Dimensi pedagogi ekologis. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa pandangan, sikap dan perilaku manusia lah yang menjadi penyebab eksploitasi dan destruksi alam.
Oleh sebab itu, dibutuhkan pedagogi ekologis untuk menyadarkan dan memperbarui perilaku manusia yang ramah lingkungan.
Pencerahan ekologis ini mesti gencar dilakukan di semua lini. Dalam Laudato si, Paus Fransiskus mendorong gerakan massif pedagogi ekologis di dalam keluarga, dan sekolah, di tengah lembaga Gereja dan masyarakat.
Secara khusus kita perlu menggalakan katekese ekologis yang tidak hanya mengusung tema-tema ekologis, tetapi juga menggunakan pola dan metode yang ekologis.
Misalnya katekese di alam terbuka, di taman, di pinggir sungai, di tepi pantai, di tengah sawah.
Demikian pula bahan-bahan katekese hendaknya menggunakan unsur-unsur alam yang mudah dilihat, didengar, dan disentuh.
Dimensi diakonia ekologis. Sejauh ini diakonia dimengerti hanya sebagai pelayanan kasih Gereja terhadap orang lemah dan rentan (miskin).
Diakonia perlu diperluas dalam pelayanan merawat dan melestarikan alam lingkungan. Diakonia insani diperluas dengan diakonia ekologis.
Sebab bukan hanya manusia, tetapi makhluk ciptaan terjerumus dalam kerentanan dan mengalami nasib yang naas di jagat raya ini.
Bahkan dewasa ini tengah terjadi kepunahan spesies yang masif di muka bumi ini. Karena itu kita mesti gencar melakukan aksi diakonia ekologis menuju terwujudnya integritas ciptaan.
Aksi ekologis melindungi dan merawat spesies dan unsur alam yang rentan ini hendaknya tidak hanya sekedar kuratif (misalnya: penghijauan, kebersihan, pengolahan sampah), tetapi juga promotif dan prefentif (misalnya: pertanian organic, peternakan ekologis, penggunaan energi terbarukan).
Lalu, dimensi spiritualitas ekologis. Masalah ekologis diakibatkan oleh gaya hidup manusia yang materialistis, konsumtif, dan hedonis.
Oleh sebab itu ekologi integral hanya dapat terwujud melalui pertobatan ekologis dan pembaruan gaya hidup manusia.
“Kita perlu membangun pola hidup ugahari, yang menggunakan alam sejauh sungguh dibutuhkan, dan mengembangkan gaya hidup “pantang”, yang tidak menggunakan alam, bila hal itu tidak mutlak diperlukan,” katanya.
Dikatakan, Sri Paus Fransiskus mengajak kita untuk memulainya dalam hal-hal yang biasa dan sederhana seperti penggunaan air dan listrik yang hemat dalam kehidupan sehari-hari dalam mewujudkan ekologi integral.
Paradigma teknokratis seperti terlihat dewasa ini dalam kecerdasan buatan (Artificial Intelligence-AI) yang memungkinkan penggunaan kekuasaan tanpa batas dan menjadikan manusia budak kekuasaan, menuntut kita untuk memikirkan dan membatasi penggunaan kekuasaan kita, yang digunakan hanya demi pengembangan kemanusiaan dan keutuhan ciptaan.
Dan,dimensi kontemplasi ekologis. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus mengajak kita untuk membarui pendekatan terhadap alam.
Dia mendorong gaya hidup profetis dan kontemplatif yang dapat merasakan dan menikmati sukacita secara mendalam tanpa terobsesi dengan konsumsi.
Lebih dari itu beliau mengajak kita meluangkan waktu untuk merasakan “suatu keselarasan yang jerih dengan dunia ciptaan” dan berjumpa dengan Sang Khalik dalam keagungan dan keindahan ciptaan-Nya.
Kontemplasi ekologis ini dimulai dari merasakan kelembutan alam semesta, menikmati kesatuan mesra dengan makhluk ciptaan dan bersyukur atas perjumpaan cinta dengan Sang Pencipta.
Menurutnya, tugas Gereja tidak hanya sekedar ekologis, tetapi spiritual. Gerakan pastoral integritas ciptaan berpangkal pada communio Allah trinitaris dan terarah menuju kemuliaan nama-Nya.
“Mari kita memuji-Nya dalam dan bersama semesta alam. Laudato si. Tetapi mari kita juga tak menunda untuk bertindak. Sebab waktu beraksi ekologis telah tiba,”ujar Romo Marthin yang juga Dosen Unika St. Paulus Ruteng itu.
Sebelumnya Ketua Komsos Puspas, Rm. Erik Ratu Pr, mengatakan, para pakar dan ahli yang membawakan materi dalam sidang pastoral ini, selain tokoh awam Sonny Keraf, juga Direktur Puspas Rm. Marthin Chen Pr, Rm. Fery Sutrisna Wijaya dari Bandung, dan Rm. Ino Sutam Pr.
“Para pakar berbicara pada hari kedua sidang pastoral post Natal yang dalam tahun ini, Keuskupan Ruteng memprogramkannya sebagai Tahun Ekologi integral,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus










