BORONG, FLORESPOS.net-Kabupaten Manggarai Timur, NTT, kembali menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud ristek).
Penghargaan ini diserahkan Direktur Sekolah Dasar, Muhamad Hasbi mewakili Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek RI, di Kupang, Rabu (25/10/2023).
Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas melalui sambungan telepon kepada Florespos.net, Kamis (26/10/2023) mengatakan, penghargaan yang diraih adalah kategori Sekolah Penggerak terbanyak, dengan total 41 lembaga pendidikan, Kabupaten dengan Satuan Pendidikan Pengguna SIPLAH terbanyak, yang mencapai 53,69 persen dan Kabupaten dengan Tingkat Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar tertinggi, yang mencapai 82,86 persen.
Bupati Agas mengatakan, sekolah penggerak adalah garda terdepan untuk pengimbasan implementasi kurikulum merdeka, dan berbagai program prioritas dari Kemendikbudristek di Manggarai Timur.
Para guru dan sekolah-sekolah penggerak telah berhasil melakukan pengimbasan kurikulum merdeka secara mandiri. Hal ini adalah gambaran semangat yang luar biasa dan untuk ini saya sebagai Bupati Manggarai Timur mengucapkan terima kasih.
Bupati Agas juga mendukung sepenuhnya pemanfaatan PMM sebagai aplikasi belajar mandiri secara daring yang bisa diakses guru-guru.
“Saat ini Pemda Manggarai Timur melalui Dinas PPO mewajibkan para guru untuk memiliki sertifikat PMM sebagai salah satu syarat untuk pencairan berbagai tunjangan. Dengan ini para guru semakin terpacu untuk meningkatkan kualitas secara mandiri. Kualitas pendidikan yang baik sangat tergantung pada kualitas guru, dan kemampuan serta kualitas tidak bisa didapat tanpa memiliki kemampuan dan akses yang baik terhadap berbagai informasi dan program pendidikan yang berlaku secara nasional.”
“Saya mengapresiasi sekolah dan guru penggerak, yang berhasil melaksanakan pengimbasan kurikulum secara mandiri. Untuk itu pemerintah Manggarai Timur, akan memperkuat alokasi anggaran untuk agenda pengimbasan kurikulum merdeka pada tahun 2024,” katanya.
Pengembangan kurikulum merdeka, sesungguhnya erat kaitannya dengan isu kekayaan intelektual yang terintegrasi dengan kebijakan pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan. *
Penulis: Albert Harianto/Editor: Anton Harus










