Promosi Rokok Vs Promosi Kesehatan (Rabies) - FloresPos Net

Promosi Rokok Vs Promosi Kesehatan (Rabies)

- Jurnalis

Jumat, 11 Agustus 2023 - 20:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: dr Asep Purnama, Sp.PD

PRODUSEN rokok selalu berjuang untuk mempromosikan produk-nya supaya laku terjual alias banyak pembeli.

Meskipun sudah dicantumkan tulisan “merokok membunuhmu”, tapi tetap laku. Karena berbagai upaya promosi dilakukan untuk melawan citra bahwa ‘rokok itu tidak sehat’. Bahkan ditonjolkan citra bahwa perokok itu jantan dan gagah.

Iklan rokok terpampang di setiap baliho di beberapa sudut berbagai kota. Biasanya baliho iklan rokok mendominasi kota, hanya baliho wajah para calon legislatif yang mampu mengalahkan, apalagi di saat sekarang ini.

Mana kala omset penjualan menurun, produsen rokok tidak menyerah. Dibuatlah pertunjukan musik dan dibagikan rokok diantara para penonton. Didatangkan musisi perokok yang menjadi panutan anak muda, agar para penonton yg nota bene anak muda tsb, mengikuti gaya hidup para musisi panutan mereka, yaitu merokok.

Sekarang sedang menjamur podcast, dimana para host nya, dengan santai mewawancarai bintang tamunya sambil merokok, karena memang disponsori oleh produsen rokok.

Hal ini tidak mungkin terjadi di media TV mainstream, yang jelas aturan main dan etikanya terkait penayangan iklan rokok.

Pada prinsipnya, produsen rokok begitu semangat dan kreatif untuk terus mempromosikan product- nya, agar laku terjual alias dibeli masyarakat.

Dan memang seperti itulah hakekat dan prinsip promosi atau marketing. Semua produsen selalu akan mempromosikan barang dagangannya agar dikenal, dipercaya dan akhirnya dibeli.

Baca Juga :  Menakar Kualitas Kepemimpinan Daerah: Antara Popularitas dan Kapabilitas

Bagaimana Promosi Kesehatan?

Prinsipnya sama. Kita sebagai produsen (pemerintah, dinas terkait, stake holder terkait) harus melakukan promosi agar produk kita ‘dibeli’ masyarakat. Apa product kita? Untuk program rabies ada 2 “barang dagangan” kita, yaitu pesan atau himbauan agar menjadi pemilik anjing yang bertanggung jawab dengan memberi vaksin secara teratur dan mengandangkannya dan mencuci luka setelah digigit dengan sabun dan air mengalir dan segera ke Puskesmas untuk mendapatkan vaksin sesuai indikasi.

Di “beli” disini maksudnya, masyarakat mau mengikuti 2 pesan utama yang kita promosikan diatas. Kalau sampai masyarakat belum mau membeli barang dagangan yang kita tawarkan, kita harus mencari cara lain yang lebih baik. Mencari cara yang lebih kreatif dan lebih cocok dengan sasaran pembeli product kita. Bukan kita ngambek atau marah dengan calon pembeli kita.

Terkadang kita sebagai produsen ngedumel, “Sudah kasih tahu supaya segera ke Puskesmas jika digigit anjing, tapi ternyata tidak datang. Terserah kalian, tanggung sendiri akibatnya jika tetap bandel”.

Sebagai Penjual, kita tidak boleh menyalahkan Konsumen. Kita tidak boleh menyalahkan masyarakat yang tidak mengikuti (membeli) pesan (produk) yang kita tawarkan. Tugas kita harus tetap fokus melakukan promosi product kita, agar dibeli konsumen.

Baca Juga :  Masyarakat Diimbau Tidak Beraktivitas dalam Radius Bahaya, Gunung Lewotobi Laki-laki Naik Level Awas

Sama seperti produsen rokok, yang senantiasa berjuang supaya rokoknya dibeli konsumen. Kalau omset penjualan menurun, bukan menyalahkan pembeli. Tapi mencari strategi baru agar para pelanggan mau membeli product rokok mereka.

Sekali lagi, kalau sampai product kita (pesan pencegahan rabies) belum dibeli (baca: diikuti) masyarakat, ayo kita cari strategi baru. Jangan menyerah, apalagi menyalahkan pelanggan (baca: masyarakat).

Lakukan evaluasi internal, dimana titik lemah atau kekurangan promosi kita. Segera lakukan perbaikan strategi. Bisa jadi strategi yang baru ini nantinya juga masih belum berhasil, tapi jangan menyerah apalagi menyalahkan pelanggan kita.

Jangan menyalahkan masyarakat yang tidak mau mengikuti saran kita. Kita sebagai produsen ‘hidup sehat terhindar dari rabies’ harus terus mencari strategi baru agar produk (hidup sehat) kita akhirnya “dibeli” dan diikuti oleh para pelanggan kita.

Produk yang “membunuh” bisa laku terjual. Sementara product hidup sehat terkait pencegahan rabies belum banyak dibeli, terbukti dari masih banyaknya kasus kematian karena rabies.

Mungkin kita perlu studi banding ke produsen rokok, untuk belajar promosi dan marketing dari mereka.

Tetap semangat. Bersama kita bisa. Salam sehat bermanfaat. *

Penulis: Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata

Berita Terkait

FGD Pilot Project Tata Kelola Risiko: Langkah Strategis Penguatan Keselamatan Pariwisata Labuan Bajo
Ancaman Serius Akses Bagi Warga, Jalan Penghubung Lintas Utara-Selatan Flores Timur Tertimbun Material Lahar Dingin Lewotobi
Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Bupati Sikka Terbitkan Surat Edaran Gerakan 30 Menit Membaca, Wisata Literasi dan Sains
Hari Kartini di Kaki Gunung Lewotobi–‘Kebangkitan Perempuan Hebat Ile Bura’
Forum Anak Daerah Dukung Ngada Menjadi Kabupaten Layak Anak
Pemda Sikka Dapat Bantuan Pembangunan 100 Rumah Melalui Skema BSPS
Polres Ende Gelar Latihan Sistem Pengamanan Mako
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 22:17 WITA

FGD Pilot Project Tata Kelola Risiko: Langkah Strategis Penguatan Keselamatan Pariwisata Labuan Bajo

Rabu, 22 April 2026 - 20:41 WITA

Ancaman Serius Akses Bagi Warga, Jalan Penghubung Lintas Utara-Selatan Flores Timur Tertimbun Material Lahar Dingin Lewotobi

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Rabu, 22 April 2026 - 19:39 WITA

Bupati Sikka Terbitkan Surat Edaran Gerakan 30 Menit Membaca, Wisata Literasi dan Sains

Rabu, 22 April 2026 - 14:56 WITA

Hari Kartini di Kaki Gunung Lewotobi–‘Kebangkitan Perempuan Hebat Ile Bura’

Berita Terbaru

Maria Lidia Ene

Opini

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Rabu, 22 Apr 2026 - 20:28 WITA