Dalam iman Katolik, kenyataan ini menemukan dasarnya dalam kisah penciptaan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26–27). Keberadaan manusia, dengan demikian, bukanlah hasil dari suatu keputusan sadar untuk mengadakan dirinya sendiri.
Ia menerima kehidupan sebelum mampu memahaminya, sebagaimana ia menerima kemungkinan untuk mengenal dan mengasihi sebelum sungguh-sungguh menyadari dari mana kemampuan itu berasal.
Ada sesuatu yang mendahului segala usaha manusia untuk menjelaskan dirinya, yaitu anugerah kehidupan yang berakar pada kehendak Sang Pencipta.
Kitab Suci menyatakan kedalaman relasi tersebut melalui sabda Allah kepada Nabi Yeremia: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal” (Yer. 31:3). Kasih ini tidak bergantung pada kecakapan manusia dalam mengenali kehadiran Allah, apalagi pada kesempurnaannya dalam menjalani kehidupan.
Rasul Yohanes menegaskan, manusia mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihinya (1Yoh. 4:19). Di sini, urutan keberadaan dan kasih memperoleh makna yang mendalam. Manusia bukanlah titik awal dari segala sesuatu yang membuatnya hidup. Ia tidak menciptakan kasih agar kemudian dapat menemukan alasan untuk menerima dirinya.
Sebaliknya, ia menemukan bahwa kehidupannya telah berada dalam cakrawala kasih yang mendahuluinya. Karena itu, amatus ergo sum tidak hendak mengatakan bahwa manusia baru ada setelah seseorang mengasihinya.
Ungkapan ini mengajak manusia menengok lebih jauh ke dalam dirinya dan menyadari bahwa keberadaannya bukan semata-mata hasil dari kehendak individual, melainkan anugerah yang diterima sebelum sempat diminta.
Editor : Wall Abulat










