Namun kita dapat mencegah sebagian kerusakan akibat kelalaian manusia. Kita dapat memperbaiki pengawasan, menghentikan pembakaran yang tidak terkendali, dan membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.
Pada akhirnya, gempa dan asap mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia bergantung pada lingkungan yang sehat dan terawat. Laudato Si’ mengajak kita melihat bumi bukan sebagai warisan yang boleh dihabiskan, melainkan sebagai rumah bersama yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kita belum selesai menghadapi satu bencana ketika ancaman lain datang. Jangan sampai kita juga terlambat belajar. Merawat rumah bersama harus dimulai sekarang, sebelum asap kembali menutupi langit dan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah berubah menjadi penyesalan bersama.*
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IFTK Ledalero, Tinggal di Maumere, Flores.










