Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan - FloresPos Net - Page 5

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah dan Gereja perlu menghormati kearifan itu dan menggandengnya dalam program pencegahan kebakaran. Imam dan pengurus paroki dapat memulai dari hal sederhana.

Mereka dapat menyampaikan imbauan pencegahan kebakaran dalam pengumuman setelah misa. Mereka dapat mengajak umat membersihkan sekitar kebun dan membuat sekat api sebelum musim kering memuncak. Langkah kecil yang dilakukan serentak lebih berguna daripada slogan besar tanpa tindakan.

Namun kepedulian ekologis tidak boleh berhenti pada doa dan kegiatan simbolis. Doa harus mendorong perubahan perilaku. Perayaan iman harus membentuk cara umat memperlakukan sesama dan lingkungan.

Baca Juga :  Investasi Manusiawi melalui Gerakan Orang Tua Peduli Anak Usia Dini (sisipan untuk GOP AUD Keuskupan Agung Ende)

Gereja juga perlu bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat adat, tenaga kesehatan, dan organisasi lingkungan untuk memperkuat perlindungan lingkungan. Fratelli Tutti menekankan persaudaraan universal dan solidaritas.

Prinsip ini mengingatkan kita bahwa penderitaan akibat kerusakan lingkungan di satu wilayah bukan urusan orang lain (Fransiskus, 2020). Ketika asap melintasi batas wilayah, tanggung jawab melindungi kehidupan juga harus melampaui batas itu.

Jangan Menunggu Bencana Berikutnya

Masyarakat Flores masih membutuhkan perhatian dan dukungan untuk memulihkan kehidupan setelah gempa. Asap seharusnya memperkuat kesiapsiagaan, bukan menambah kecemasan tanpa respons yang jelas.

Baca Juga :  Dampak Abu Vulkanik, Peternak di Lereng Gunung Lewotobi Kesulitan Pakan

Pemerintah perlu menyampaikan informasi kualitas udara dan sumber asap berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat perlu menghindari pembakaran yang berisiko. Pelaku usaha harus menjalankan tanggung jawab ekologis. Gereja perlu memperkuat pendidikan dan gerakan lingkungan.

Setiap orang dapat mulai dari rumah sendiri. Keluarga dapat memilih cara lain untuk mengelola sampah dan sisa panen. Warga dapat menegur dengan sopan tetangga yang menyalakan api saat angin kencang. Kebiasaan kecil itu menjaga udara bersih yang kita hirup bersama. Kita tidak dapat mencegah semua bencana alam.

Berita Terkait

Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA