Pemerintah dan Gereja perlu menghormati kearifan itu dan menggandengnya dalam program pencegahan kebakaran. Imam dan pengurus paroki dapat memulai dari hal sederhana.
Mereka dapat menyampaikan imbauan pencegahan kebakaran dalam pengumuman setelah misa. Mereka dapat mengajak umat membersihkan sekitar kebun dan membuat sekat api sebelum musim kering memuncak. Langkah kecil yang dilakukan serentak lebih berguna daripada slogan besar tanpa tindakan.
Namun kepedulian ekologis tidak boleh berhenti pada doa dan kegiatan simbolis. Doa harus mendorong perubahan perilaku. Perayaan iman harus membentuk cara umat memperlakukan sesama dan lingkungan.
Gereja juga perlu bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat adat, tenaga kesehatan, dan organisasi lingkungan untuk memperkuat perlindungan lingkungan. Fratelli Tutti menekankan persaudaraan universal dan solidaritas.
Prinsip ini mengingatkan kita bahwa penderitaan akibat kerusakan lingkungan di satu wilayah bukan urusan orang lain (Fransiskus, 2020). Ketika asap melintasi batas wilayah, tanggung jawab melindungi kehidupan juga harus melampaui batas itu.
Jangan Menunggu Bencana Berikutnya
Masyarakat Flores masih membutuhkan perhatian dan dukungan untuk memulihkan kehidupan setelah gempa. Asap seharusnya memperkuat kesiapsiagaan, bukan menambah kecemasan tanpa respons yang jelas.
Pemerintah perlu menyampaikan informasi kualitas udara dan sumber asap berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat perlu menghindari pembakaran yang berisiko. Pelaku usaha harus menjalankan tanggung jawab ekologis. Gereja perlu memperkuat pendidikan dan gerakan lingkungan.
Setiap orang dapat mulai dari rumah sendiri. Keluarga dapat memilih cara lain untuk mengelola sampah dan sisa panen. Warga dapat menegur dengan sopan tetangga yang menyalakan api saat angin kencang. Kebiasaan kecil itu menjaga udara bersih yang kita hirup bersama. Kita tidak dapat mencegah semua bencana alam.










