Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan - FloresPos Net - Page 2

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam terang ensiklik Laudato Si’, persoalan ini bukan sekadar urusan cuaca. Ini menyangkut tanggung jawab moral manusia terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Asap Bukan Sekadar Gangguan Pemandangan

Kebakaran hutan dan lahan berdampak luas. Api merusak vegetasi, mengancam habitat satwa, dan menghasilkan partikel yang mencemari udara. Angin membawa partikel itu melintasi batas wilayah administratif, bahkan melampaui pulau tempat api menyala. Ancaman kebakaran bukan hal asing bagi Flores.

Pada 8 September 2026, Flores Pos melaporkan kebakaran lahan kebun di dekat landasan pacu Bandara Frans Seda, Maumere. Api merambat cepat karena angin kencang serta rerumputan dan batang jagung kering. Petugas gabungan memadamkan api agar tidak meluas ke kawasan bandara (Florespos.net, 2026).

Baca Juga :  Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)

Peristiwa itu menunjukkan bahwa kebakaran lahan dapat mengancam fasilitas umum dan keselamatan warga. Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas, terutama saat lahan mengering. Pembakaran terbuka yang tidak terkendali dapat menimbulkan kerugian jauh lebih besar daripada manfaat sesaat yang diperoleh.

Dampak asap juga tidak dirasakan semua orang secara setara. Anak-anak, lansia, orang dengan gangguan pernapasan, dan pekerja lapangan perlu mendapat perhatian khusus.

Petani, pedagang pasar, dan pengemudi ojek bekerja di luar ruangan setiap hari. Warga berpenghasilan rendah juga dapat menghadapi kesulitan untuk mengurangi paparan asap atau memperoleh perlindungan kesehatan.

Baca Juga :  Kekerasan Seksual: Luka dalam Relasi yang Harus Dihentikan

Warga yang masih mengungsi akibat gempa dapat menghadapi risiko lebih besar. Tenda dan hunian sementara memberi perlindungan terbatas dari udara luar. Karena itu, posko pengungsian perlu mendapat perhatian dalam pemantauan kualitas udara.

Dengan demikian, asap menyangkut tiga kepentingan sekaligus: lingkungan hidup, kesehatan masyarakat, dan keadilan sosial. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan titik panas, menyampaikan informasi kualitas udara, menyiapkan respons cepat, dan menindak pelanggaran yang terbukti menyebabkan kebakaran. Masyarakat juga membutuhkan pendampingan untuk mengelola lahan dengan cara yang lebih aman.

Berita Terkait

Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA