Untuk landasan konseptual, ia merujuk gagasan endogenous development yang menurutnya telah lama dikembangkan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Pendekatan itu menempatkan kemampuan, sumber daya, institusi, pengetahuan, dan hubungan sosial yang ada di dalam suatu wilayah sebagai fondasi pembangunan ekonomi.
Dengan demikian, pembangunan daerah tidak semata-mata bergantung pada modal dari luar.
Kanisius membedakan potensi dari nilai ekonomi. Tanah, laut, pertanian, tenun, kopi, dan pariwisata adalah potensi.
Semuanya belum menjadi nilai ekonomi apabila berhenti sebagai komoditas tanpa inovasi, tanpa pasar, tanpa pencatatan keuangan, tanpa strategi pemasaran, tanpa tata kelola, dan tanpa kemampuan membangun rantai nilai.
Contoh kopi dan tenun
Ia memberi dua contoh. Biji kopi mentah memiliki nilai tertentu, tetapi nilainya meningkat ketika kopi diolah, diberi standar kualitas, dikemas dengan identitas daerah, dipasarkan melalui platform digital, dan memiliki merek serta sistem akuntansi yang baik.
Untuk tenun, ia menyebut produk ini dapat berkembang melampaui kain. “Tenun bukan hanya kain. Ia dapat menjadi produk fesyen, produk interior, cendera mata, bagian dari industri kreatif,” ujarnya.
Penulis : Milikior Sobe (Kontributor)
Editor : Wall Abulat










