Dari aspek keselamatan berkendara, jenis kendaraan ini rentan terguling (rollover) saat berbelok tajam dalam kecepatan tinggi akibat pusat gravitasi yang relatif tinggi serta geometri poros roda yang kaku.
Selain itu, dimensi fisiknya yang lebih lebar memakan ruang jalan (road space) lebih besar dibandingkan sepeda motor, sehingga berpotensi memperparah kemacetan lalu lintas apabila populasinya tidak dikendalikan dengan baik di koridor-koridor padat perkotaan.
Dari sudut pandang ekonomi dan industri, bobot kendaraan yang lebih berat berdampak pada konsumsi energi, baik bahan bakar maupun listrik yang lebih tinggi, sekaligus menyebabkan biaya akuisisi armada menjadi lebih mahal daripada sepeda motor konvensional.
Tantangan ini makin diperberat oleh ekosistem pendukungnya yang masih terbatas, mengingat industri manufaktur, ketersediaan suku cadang, serta regulasi kelaikan jalan seperti uji tipe untuk kendaraan roda tiga belum sekuat dan seluas ekosistem sepeda motor roda dua.
Pertimbangan
Pengembangan dan pemanfaatan kendaraan roda tiga (three-wheeler) dibandingkan kendaraan roda dua (two-wheeler) memiliki sejumlah alasan strategis, teknis, operasional, dan ekonomi, khususnya dalam konteks sistem transportasi daerah, konektivitas kawasan perdesaan, 3 Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, dan Perbatasan (3TP), serta rantai pasok logistik first-mile/last-mile.
Pertimbangan utama mengapa kendaraan roda tiga lebih unggul atau berpotensi dikembangkan daripada roda dua untuk fungsi-fungsi tertentu.
Pertama, kendaraan roda tiga memiliki kestabilan alami yang mencegah risiko terjatuh saat berhenti atau melaju lambat, serta lebih aman melewati jalan licin atau berlubang dibandingkan kendaraan roda dua.










