Langkah ini didukung pula oleh kemitraan strategis bersama pengembang kawasan perumahan (real estate) maupun pengelola pasar tradisional dalam menyediakan layanan pengumpan khusus di area internal.
Strategi keempat berfokus pada edukasi publik dan promosi visibilitas. Pendekatan ini diterapkan dengan merancang desain armada yang bersih, modern, dan nyaman guna mengikis persepsi lama bahwa kendaraan roda tiga identik dengan kesan bising atau kumuh.
Selain itu, penyelenggaraan program uji coba berkendara gratis pada koridor-koridor tertentu saat peluncuran rute baru dapat membantu membangun pengalaman langsung (first-hand experience) yang positif bagi masyarakat.
Strategi kelima berfokus pada pemberian insentif dan subsidi armada . Langkah ini diwujudkan melalui penyediaan insentif skema pembelian untuk kendaraan bajaj listrik serta pembebasan biaya (gratis) bagi pengadaan becak listrik.
Kebijakan ini bertujuan mempercepat peremajaan armada, meringankan beban modal para pengemudi lokal, sekaligus mendorong transisi energi bersih secara inklusif di sektor transportasi rakyat.
Strategi keenam, menyasar pada pemanfaatan spesifik di wilayah kepulauan kecil. Untuk pulau-pulau kecil yang kondisi tata ruang serta jumlah penduduknya belum memungkinkan pengembangan transportasi umum massal, kendaraan roda tiga dapat dijadikan moda transportasi utama.
Ukuran fisiknya yang kompak serta kapasitas angkutnya yang memadai membuat kendaraan ini sangat ideal melayani konektivitas wilayah pedalaman dan pesisir secara efisien.
Secara keseluruhan, pengembangan kendaraan roda tiga menyimpan potensi besar untuk mengisi ruang kosong layanan transportasi perkotaan, perdesaan maupun kawasan kepulauan.










