Pakan dan air minum sapi di datangkan dari areal kurang lebih 2 kilometer di sekitar Wulo Kolo menggunakan satu unit mobil Pic up. Air di tampung dengan 36 jerigen ukuran 20 liter, dan diangkut sebanyak 8 kali sehari.
Lalu, di tampung pada tempat penampungan berukuran kurang lebih 2 x 1 meter pada blok penampungan sapi untuk minum sapi. “Selain itu, informasi didapat bahwa sapi-sapi tersebut tidak ditimbang sehingga tidak diketahui bobotnya,” kata Rut Wungubelen.
Harapan Komisi 2 DPRD
Berdasarkan fakta lapangan itu, masih Rut Wungubelen, Komisi 2 DPRD mengharapkan pemerintah sesegera mungkin memperbaiki blok kandang baik dari aspek kekuatan maupun dari aspek kerapatan kawat pagar, agar bisa meminimalisir sapi-sapi hilang akibat menerobos kandang.
“Selain itu, urusan pakan dan air minum sapi juga harus menjadi langkah mitigasi serius,” katanya.
Pemerintah juga harap Rut Wungubelen, sesegera mungkin, tegas dan jelas mengambil sikap untuk menentukan berapa jumlah sapi yang harus di datangkan.
“Apakah tetap dengan 450 ekor sesuai hasil kesepakatan dengan pihak penyedia sebagaimana dijelaskan pemerintah pada forum Banggar DPRD atau perlu disesuaikan lagi berdasarkan fakta lapangan,” katanya.
“Berdasarkan wawancara kami dengan para sopir yang mengantar sapi-sapi tersebut, 250 ekor sapi akan didatangkan lagi dari Kupang,” kata Rut Wungubelen mengakhiri pernyataannya
Ratusan sapi itu masih tetap berada di lokasi kawasan Wolo Kolo. Menghuni sementara (Huntara) saja. Seturut skema baru yang juga belum pasti, nantinya, 50 ekor akan menghuni tetap (huntap) di Sentra Wolo Kolo dan sisanya disebar ke kelompok masyarakat melalui skema Sub Sentra. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus










