Oleh: Florentina Ina Wai
DUNIA kembali diwarnai oleh kabar bersejarah dari Maroko. Raja Mohammed VI resmi menunjuk Fatima Zahra El Mansouri (50 tahun) sebagai perdana menteri.
Ini adalah catatan emas. Perempuan pertama yang memimpin pemerintahan di negara tersebut. Keputusan ini diambil setelah partainya, Authenticity and Modernity Party (PAM), memenangkan pemilu parlemen pada tahun 2026.
Fatima jelas bukan orang baru di panggung politik. Ia pernah menjadi Wali Kota Marrakesh, menjabat sebagai menteri perumahan, hingga memiliki latar belakang ahli hukum bisnis yang menempuh pendidikan di Maroko, Prancis, dan Amerika Serikat.
Jejak panjangnya membuktikan bahwa posisi tertinggi itu ia raih melalui kompetensi dan kerja keras. Namun, ada satu hal sangat menarik dari sosok Fatima yang bisa kita renungkan dari kacamata psikologi.
Selama ini, dunia sering kali melabeli perempuan sukses di posisi puncak sebagai ‘Wanita Besi’ atau ‘Iron Lady’. Label ini mengisyaratkan bahwa untuk bisa bertahan dan dihormati, seorang perempuan harus keras, kaku, dan mematikan sisi emosinya.
Menariknya, Fatima menolak label tersebut. “Saya bukan wanita dari baja atau besi. Saya adalah seorang aktivis bebas,” ujarnya.
Dalam psikologi, sikap Fatima ini mencerminkan konsep ‘Authentic Leadership’ atau Kepemimpinan Otentik. Kekuatan sejati tidak lahir dari penolakan terhadap jati diri, melainkan dari penerimaan diri yang utuh.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










