Oleh: Oris Goti
PONSEL saya bergetar saat hendak beristirahat setelah menonton live streaming laga semifinal ETMC XXXIV Ende 2025 usai. Sebuah pesan WhatsApp muncul dari Abeth, rekan jurnalis, yang kini bertugas di Ende dan salah satu penulis sepak bola NTT.
Pesannya masuk beruntun. “Om… terlalu emosional. Saya ambil gambar, air mata mau jatuh,” tulisnya. Ia tidak menelepon, mungkin suara stadion terlalu riuh untuk bicara. Tapi dari rangkaian pesannya saya paham : ada momen yang membuat seorang jurnalis pun harus menelan haru.
Di lapangan ia mengikuti dan menyaksikan Yoris Nono berdiri lebih lama dari biasanya. Satu tangannya terangkat ke udara, gerakan yang lambat dan penuh kesadaran, lalu tangannya itu ia katupkan di depan dada sambil menunduk dalam.
Itu bukan salam biasa. Itu adalah penghormatan seorang anak kepada rumahnya. Kepada Ultras Ngada. Kepada suara-suara yang dulu membesarkan semangatnya tiap kali ia mengenakan jersey orange.
Setelah itu Yoris dan Coach Kletus Gabhe bersua dari arah yang berbeda. Pelukan mereka terjadi begitu natural, hampir seperti dua saudara yang lama berpisah lalu bertemu kembali dalam situasi yang sama-sama berat.
Pelukan itu mengandung sejarah, peluh latihan, ruang ganti, kemenangan, kekalahan, nasihat yang pernah menguatkan, dan perjalanan hidup yang membawa keduanya pada jalan profesi masing-masing.
Laga PSN Ngada melawan Bajak Laut malam itu memang bukan laga yang mudah. Di Bajak Laut berdiri para mantan pemain PSN yang dulu menjadi bagian penting sejarah klub, Yanto Leda, Yulius Logo, Rein “Rahul” Milo, Alvin Seo, nama-nama yang dulu berkeringat bersama Yoris dan Coach Kletus, nama-nama yang ikut membawa PSN Ngada juara ETMC di Rote Ndao 2023. Malam itu, mereka bukan sekadar lawan. Mereka adalah kenangan yang berdiri di sisi yang berbeda.
Pertandingan berjalan ketat, setiap duel seolah memanggil kembali setiap kenangan lama. Tidak ada yang benar-benar siap bertarung melawan orang-orang yang dulu mereka sebut saudara.
Namun sepak bola, seperti hidup, tidak selalu memberi pilihan lembut. Adu penalti akhirnya menjadi penentu, dan PSN Ngada menang. Tapi tidak ada selebrasi berlebihan; tidak ada euforia liar. Semuanya berjalan dengan rasa yang rumit, campuran syukur, lega, dan sedikit luka.
Di tengah rasa campur-aduk itu, saya teringat pada Coach Kletus Gabhe. Saya penasaran apa yang ia katakan setelah laga seberat itu. Kletus bukan tipe pelatih yang asal berkomentar. Setiap kalimatnya selalu terasa dalam dan penuh refleksi.
Saya membuka Facebook, mencari akun Wili Aran, jurnalis senior yang juga bertugas di Ende dan dikenal rajin mengabadikan momen sepak bola NTT. Benar saja, di beranda Wili saya menemukan video wawancara singkatnya dengan Coach Kletus, direkam beberapa menit setelah peluit akhir berbunyi.
Dalam video itu, dengan suara serak namun berwibawa. Coach Kletus bilang, “Melawan Bajak Laut itu seperti melawan diri sendiri.” Kalimat yang pendek tetapi sarat makna, lahir dari perjalanan panjang seorang pelatih yang tidak hanya membina taktik, tetapi juga membentuk karakter.
Kalimat itu mengingatkan saya pada adagium klasik, kemenangan yang paling sulit adalah menaklukkan diri sendiri. Dan malam itu, semua orang, baik yang menang maupun yang kalah, sedang berjuang menaklukkan diri mereka masing-masing.
Dalam momen seperti ini, syair Ariel Noah terngiang begitu pas: “Tak ada yang abadi…” Mungkin kalimat itu juga yang berputar di kepala Yoris ketika ia menunduk di depan Ultras Ngada. Dalam sepak bola, tidak ada yang abadi, seragam berganti, peran berubah, warna tak lagi sama. Tetapi cinta? Ia tidak hilang.
Regenerasi dalam sepak bola bukan soal memutus yang lama, tetapi meneruskan yang baik. Yoris dan para mantan PSN yang kini membela Bajak Laut menunjukkan hal itu.
Mereka bertarung sepenuhnya demi profesionalisme, tetapi tidak pernah lupa bahwa mereka pernah duduk, berlari, dan menangis di tempat yang sama. Mereka mengajarkan para pemain muda arti martabat seorang pesepak bola, bahwa Anda boleh memenangkan pertandingan, tetapi jangan pernah mengorbankan kemanusiaan.
Yang membuat momen ini semakin menyentuh adalah latar hidup Yoris sendiri. Ia tidak lahir dari akademi mewah, tidak dari lapangan sintetis atau fasilitas mahal. Ia tumbuh dari lapangan kampung, tanah yang kadang becek, kadang keras dan berkerikil, kadang rumputnya tumbuh seadanya.
Ia dibesarkan oleh orang-orang yang hatinya besar, yang percaya bahwa bakat bisa muncul dari pelosok kecil mana pun. Seperti kata Pelé, legenda dunia yang juga lahir dari kesederhanaan, “The more difficult the victory, the greater the happiness in winning.” Yoris membawa semangat itu, semangat yang datang dari akar rumput, dari perjuangan yang tidak pernah lunak.
Semifinal 2025 ini bukan hanya tentang PSN Ngada yang lolos ke final. Ini tentang bagaimana sepak bola menyatukan masa lalu dengan masa kini. Tentang bagaimana pemain-pemain yang dulu berbagi ruang ganti kini saling menundukkan kepala dengan hormat. Tentang bagaimana pelukan, lambaian tangan, dan tangan yang mengatup bisa lebih kuat dari skor yang tertulis di papan.
Sepak bola memang begitu, ia kadang keras, kadang kejam, tetapi selalu punya cara membuat kita manusiawi.
Tidak ada yang abadi, kecuali kenangan yang kita rawat bersama. Dan malam itu, Yoris Nono, Coach Kletus Gabhe, PSN Ngada, dan para mantan pemain yang kini membela Bajak Laut menambah satu bab baru, bab tentang hormat, tentang cinta, dan tentang kembali menunduk di hadapan apa yang pernah membesarkan kita.
Penulis adalah Jurnalis dan Pencinta PSN










