Pelabuhan Kedindi menyimpan peluang sebagai gerbang maritim. Pantai-pantai utara Flores masih alami. Masyarakat pesisir masih menjaga budaya dan tradisi mereka. Semua kepingan puzzle sebenarnya telah tersedia. Yang belum tersedia hanyalah satu hal: keberanian menyusunnya menjadi sebuah visi pembangunan kawasan.
Sejarah pembangunan daerah sering kali tidak dimulai oleh proyek terbesar, melainkan oleh keberanian membaca arah perubahan. Ketika Labuan Bajo telah menemukan jalannya sebagai lokomotif pariwisata Indonesia, Pantura Flores memiliki kesempatan untuk menentukan perannya sendiri sebagai koridor ekowisata yang menghubungkan alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.
Pilihannya sederhana: menjadi penonton dari keberhasilan kawasan lain, atau menjadi bagian dari babak kedua kebangkitan pariwisata Flores.*
Editor : Wall Abulat










