Romo Gabby menambahkan, kalau Bahasa Jepang 2 dosennya dibiayai oleh Musubu sedangkan dosen Bahasa Inggris dan Jerman dibiayai sendiri oleh yayasan selaku pengelola.
Ia memaparkan, perkuliahan di Stikes Santa Elisabeth menekankan pertama terkait sikap sementara nomor dua skill atau keterampilan baru yang ketiga nilai mata kuliah.
“Kalau D3 Keperawatan laboratorium kita lengkap dan lulusannya selalu terserap dunia kerja.Kita berharap Stikes bisa bersaing dengan lembaga kesehatan lainnya,” ucapnya.
Romo Gabby berharap calon-calon mahasiswa yang masih mencari-cari tempat kuliah, Stikes bisa jadi salah satu pilihan sehingga pihak kampus terus melakukan sosialisasi ke berbagai wilayah di Pulau Flores.
Pihaknya berharap agar dengan adanya sosialisasi termasuk menggandeng paroki-paroki akan membuat semakin banyak lulusan sekolah menengah atas yang berkuliah di kampus ini.
“Saat ini paling banyak mahasiswa kami berasal dari Kabupaten Sikka, Manggarai, Ende dan Ngada. Kami sedang lakukan sosialisasi di Flores dan Lembata sebab masih minim mahasiswa asal daerah tersebut,” ungkapnya.
Romo Gabby menerangkan, pihaknya menargetkan untuk tahun 2026 ini bisa menerima mahasiswa baru sebanyak 200 orang dan hingga awal Juni 2026 sudah ada sekitar 100 calon mahasiswa yang mendaftar.
Tentunya dengan berkuliah di Stikes Santa Elisabeth Keuskupan Maumere membuat lulusannya memiliki peluang kerja lebih besar terutama lulusan D3 Keperawatan.
“Kita ingin agar semua lulusan dari kampus kami bisa langsung bekerja.Bahkan Keuskupan Padang pun membiayai mahasiswa kami dan setelah lulus mereka langsung bekerja di sana.Kita selalu melakukan penjajakan dengan berbagai lembaga agar lulusan kami langsung bisa bekerja,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










