ENDE, FLORESPOS.net-Umat Kristen seluruh dunia mulai hari ini memasuki masa puasa. Puasa bagi umat Kristen selalu diawali dengan ritus tobat berupa penerimaan abu.
“Dalam masa prapaskah ini umat katolik diminta untuk menyiapkan hati menyambut karya keselamatan Tuhan dengan tobat, puasa dan derma. Sesuai bacaan atau warta Tuhan hari ini umat Katolik diminta untuk mengoyakkan hati atau saya meminta umat untuk mengguncangkan hatinya agar semua yang kotor bisa terpental atau tercerai berai selama masa puasa ini”.
Demikian antara lain disampaikan Pastor Paroki Santo Yosef Onekore, Pater Krispinianus Lado,SVD dalam homili Ekaristi Rabu Abu di Gereja Onekore, Rabu (18/2/2026).
Perayaan Rabu Abu dihadiri ribuan umat tersebut berlangsung hikmat. Pater Pian Lado mengajak umat Paroki Onekore melakukan 3 hal sederhana namun bermakna selama masa puasa.
Pertama, jalankan puasa dengan sungguh-sungguh, koyak atau guncangkan hatimu agar selama menjalani puasa bukan sekadar pantang atau puasa makan dan minum. Tetapi lebih dari itu umat diajak untuk memaknai doa, puasa dan derma dengan penuh iman.
Kedua, Pater Pian mengajak umat untuk menjalankan puasa dengan penuh kedamaian. Damailah dengan diri sendiri,dengan sesama, dan damai dengan alam lingkungan ciptaan Tuhan. Dengan demikian, selama masa puasa ini semua luka bathin,fisik dan hubungan dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan akan terjalin dengan baik.
Ketiga, Pater Pian mengajak umat untuk menjalankan puasanya dalam keheningan dan diam. Jadikan puasa itu sesuatu hal yang biasa. Jangan jadikan puasa sebagai sesuatu yang heboh dan semua orang mesti tahu bahwa umat sekalian sedang berpuasa. Lakukan semuanya dalam kesederhanaan,tenang, dan damai.
“Semua ini tentu akan bermuara pada suatu pertobatan dalam Puasa, Doa dan Derma. Selama masa puasa ini kita sungguh mendengarkan Tuhan. Hal ini tentu sejalan dengan tema besar masa prapaskah tahun 2026, yakni, “Mendengarkan dan Berpuasa”.
“Ketika menjalankan semuanya dalam damai, maka iman kita mendapatkan semangat baru dan hati kita tidak tercerai beraikan oleh kegelisahan serta berbagai gangguan hidup setiap hari,” kata Pater Pian.
Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini
Sementara Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dalam surat Gembala Prapaskah tahun 2026 meminta umat Katolik untuk memberikan perhatian khusus terhadap anak usia dini.
Mgr. Paul Budi Kleden, SVD menyebutkan, dalam semangat tobat puasa dan amal kasih, Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 di Keuskupan Agung Ende kita arahkan pada fokus pastoral keuskupan tahun 2026, yakni Gerakan Orangtua Peduli Anak Usia Dini.
Fokus ini lahir dari keprihatinan pastoral yang mendalam sekaligus dari harapan besar akan masa depan Gereja dan masyarakat.
Gerakan ini merupakan amanat Muspas VIII, dan masih merupakan satu kesatuan dengan Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil dan Gerakan KUB Ramah Anak yang sedang digalakkan dua tahun terakhir.
Anak merupakan anugerah dan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada keluarga. Secara khusus anak usia dini, sejak dalam kandungan hingga usia enam tahun, adalah anugerah Allah yang tak ternilai, serentak membutuhkan perhatian yang sungguh dari keluarga dan kita semua.
Yesus sendiri menunjukkan perhatian, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku….” (Mrk 10:14). Dalam diri mereka tersimpan harapan, masa depan, dan keberlanjutan kehidupan.*
Penulis : Anton Harus
Editor : Wentho Eliando










