KEFAMENANU, FLORESPOS.net-Sejak dilantik dan memimpin Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Bupati Yosep Falentinus Dellasale Kebo dan Wakil Bupati Kamilus Elu, mulai bekerja membuat berbagai perubahan.
Pasangan pemimpin yang lama berada di perantauan ini mulai aktif bekerja sekitar Maret 2025 dan mulai melakukan penghematan anggaran saat efisiensi anggaran dipraktekkan pemerintah pusat.
“Apapun kondisinya,kita berupaya mengatasinya dengan melakukan penghematan.Dari beberapa item penghematan itu kita bisa mendapatkan kurang lebih Rp34 miliar di tahun 2025,” ujar Bupati TTU, Yosep Falentinus Dellasale Kebo saat ditemui di Maumere, Rabu (11/2/2026) malam.
Falent sapaan karibnya mengakui dengan adanya penghematan, ketika daerah lain kesulitan anggaran, Kabupaten TTU fiskalnya surplus (surplus anggaran) sehingga bisa melaksanakan berbagai program dan kegiatan yang direncanakan.
Selain itu, disamping mengandalkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) II, pemerintah juga mengoptimalkan dana dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan.
“Kami terus membangun karena ada dana CSR. Kalau saya mau ambil uang itu untuk kepentingan pribadi saya gampang,tidak ada yang tahu.Tapi saya tidak mau, saya mau ada legacy, sesuatu yang baik yang kita wariskan,” tegasnya.
Bagi lelaki kelahiran Wini, 10 Februari 1977 ini, bila TTU dibangun dengan baik selam 5 samai 10 tahun ke depan maka kabupaten lain akan butuh 20 tahun untuk bisa mengejar perkembangan TTU.
Ini yang menjadi target Falent sehingga langkah pertama yang dilakukan adalah memperbaiki Sumber Daya Manusia (SDM), menegakan disiplin serta membuat ekonomi bertumbuh melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Termasuk juga membenahi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSID) Kefamenanu yang sudah berjalan sehingga semuanya bisa rampung dan berjalan baik.
“Semua itu butuh pemimpin yang harus disiplin baru bisa kejar perkembangan. Di tahun 2024 Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita capaian hanya Rp54 miliar. Saya mulai efektif kerja itu di Maret, saya mulai benahi rumah sakit daerah,” terangnya.
Falent menyebutkan, setelah melakukan berbagai perubahan sistem,bulan Agustus 2025 hingga Desember 2025 pendapatan RSUD Kefamenanu bisa mencapai angka Rp71 miliar.
Untuk tahun 2026, dirinya yakni pendapatan rumah sakit pemerintah ini akan melampaui asumsi PAD yang sudah ditetapkan tahun 2026 yakni sebesar Rp88 miliar.
Alumni S2 dari University of New South Wales Australia ini mengakui meski tidak memiliki apa-apa namun daerahnya mampu melampaui apa yang ditargetkan dengan mengoptimalkan apa yang dimiliki.
“Mengoptimalkan PAD yang tidak dilirik selama ini. Rumah sakit dari Rp700 juta sebulan pendapatannya, sekarang itu sudah Rp3,2 miliar per bulan.Kita benahi manajemennya,” paparnya.
Falent mengatakan menjadi direktur RSUD Kefamenanu bukan harus seorang dokter karena dokter tidak memahami manajemen,dia hanya tahu mengobati pasien.
Harus cari orang yang paham manajemen dan diberikan pelatihan dengan memberikan target-target yang harus dikerjakan sehingga rumah sakit bisa berjalan baik, manajemennya sehat dan memberikan pemasukan.
Kalau PAD rumah sakit besar berarti pemerintah gagal, karena banyak orang sakit. Falent menegaskan tidak begitu juga sebab selama ini orang sakit lebih banyak berobat di rumah sakit swasta.
“Kondisi ini membuat rumah sakit swastanya maju sedangkan rumah sakit kita malah turun. Kenapa?, karena semua rujukan itu dilarikan ke rumah sakit swasta,mereka terima fee,” ujarnya.
Falent memberikan sanski tegas kepada para tenaga medis yang membuat rujukan pasien ke rumah sakit swasta sebab bila ketahuan maka akan dicopot dari jabatannya.
Dia mengakui RSUD Kefamenanu masih Tipe C dan bisa dikembangkan menjadi Tipe B namun dengan efisiensi anggaran di Kementrian Kesehatan membuat kepala daerah harus berebut untuk mendapatkan dana dari kementrian.
“Tahun ini hanya 3 kabupaten di NTT yang dapat Dana Alokasi Khusus (DAK), salah satunya Kabupaten TTU. Karena kita rajin ke Jakarta,” ungkapnya.
Banyak pemimpin yang takut mengambil kebijakan karena secara pribadi ada hitungan politis yang tidak menguntungkan, Falent tegaskan dirinya hanya berpikir menjabat bupati satu periode sehingga ia tidak takut.
Dirinya mengaku dengan begitu apabila ada yang tidak menyukai kebijakan yang dilakukan tidak usah memilihnya bila ingin maju sebagai bupati kembali karena niatnya hanya untuk perbaiki daerahnya.
Pensiunan Mayor TNI AD ini menegaskan tidak perlu menjaga perasaan orang bila apa yang dilakukan benar, sesuai aturan serta demi kepentingan masyarakat banyak.
“Sesuatu yang baik itu memang tidak gampang untuk kita wujudkan. Perlu meyakinkan, merubah mindset, merubah gap SDM yang tertinggal,” jelasnya.
Falent mengatakan semua langkah tersebut butuh effort dan butuh keputusan yang berani, keputusan yang tidak main-mainn sehingga apabila pemimpin tidak mampu lakukan itu maka akan kehilangan harapan.
Ia berharap masyarakatnya mengikuti tipe pemimpin di setiap masanya dimana saat ini dirinya menjadi Bupati TTU dan untuk melakukan perubahan dilakukan dengan gayanya dan tidak ada yang harus enak.
Lelaki yang pernah bertugas di 10 negara ini mengaku menjadi pemimpin itu bukan untuk disukai karena dirinya harus berani mengambil keputusan untuk disukai dan tidak disukai.
“Kalau kita mengambil semua disukai maka daerah itu tidak akan maju.Karena kita lebih banyak mengalah akhirnya dia akan timpang,” ucapnya.
Falent tegas menjawab bila dari angka 1 sampai 10 sudah sejauh mana perjalanan kepemimpinannya, ia mengatakan sudah berada di angka 8 dan tersisa 2 lagi yang belum dilaksanakan.
Dirinya menargetkan di tahun 2026 semua programnya sudah bisa selesai dikerjakan sehingga tahun 2027 tinggal berlari saja dan melakukan penataan yang tidak beres. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










