Misa Pontifikal Uskup Larantuka Mgr Hans Monteiro: Dipanggil, Diutus, Disatukan - FloresPos Net

Misa Pontifikal Uskup Larantuka Mgr Hans Monteiro: Dipanggil, Diutus, Disatukan

- Jurnalis

Kamis, 12 Februari 2026 - 18:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr Yohanes Hans Monteiro merayakan Misa Pontifikal bersama umat di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (12/2/2026).

Misa perdana setelah ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Larantuka sehari sebelumnya itu dihadiri ribuan umat dari Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang mengambil Motto Episkopal “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan) dalam kotbahnya merangkum hakikat eksistensi Gereja.

Ia menekankan tiga pilar utama yang mendefinisikan jati diri umat beriman: dipanggil, diutus, dan dipersatukan. Ketiga elemen ini dipandang sebagai satu kesatuan sirkular yang bergerak dari inisiatif Allah menuju perutusan di dunia.

Mgr. Hans Monteiro mengawali refleksinya menyoroti kisah panggilan Nabi Yeremia sebagai prototipe panggilan setiap orang beriman. Ia menegaskan bahwa panggilan merupakan kedaulatan Allah yang melampaui kapasitas manusiawi.

“Panggilan sejati bermula dari inisiatif kasih Allah, bukan dari kesiapan atau kemampuan manusia,” ujarnya.

Istilah “dikenal” dalam konteks biblis, menurut Mgr. Hans, merujuk pada keintiman yang mendalam antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Meski demikian, panggilan tersebut mengandung risiko yang nyata, termasuk penolakan dan perlawanan.

Gereja, yang diwakili oleh seluruh umat Allah melalui sakramen baptis, mengemban tugas kenabian untuk menyampaikan kebenaran, terlepas dari kenyamanan situasi yang dihadapi.

Baca Juga :  Keterbatasan Anggaran Satpol PP Ende Tetap Laksanakan Bimtek untuk Anggota Baru, Ini Alasannya

Pada bagian kedua, Mgr. Hans membedah makna perutusan melalui simbolisme angka 72 murid dalam Injil. Angka ini mencerminkan sifat universalitas Gereja yang melampaui sekat suku, bahasa, maupun budaya. Perutusan tersebut dipahami sebagai sebuah ajakan untuk menawarkan perdamaian melalui perjumpaan, bukan melalui paksaan atau dominasi.

“Gereja mengundang, tidak memaksa; melayani, tidak mendominasi; serta menawarkan perjumpaan, tidak menguasai,” tegas Mgr. Hans Monteiro.

Mgr Hans Monteiro mengingatkan agar di tengah perbedaan pandangan dan konflik, umat tidak terjebak dalam klaim kebenaran sepihak. Damai sejati hanya dapat diwartakan oleh mereka yang menghidupi damai itu sendiri dalam keseharian mereka.

Menutup rangkaian pesannya, Mgr. Hans menggarisbawahi pentingnya kesatuan sebagai anugerah, yang lebih dalam maknanya dari sekedar strategi organisasi.

Dalam konteks pelayanan episkopal, peran Uskup adalah sebagai penjaga persekutuan yang memastikan setiap karunia umat bertumbuh secara harmonis. Kesatuan ini bersifat dinamis dan harus terus diupayakan melalui sikap rendah hati, kesabaran, dan kasih yang konkret.

Mgr Hans Monteiro secara khusus menyinggung realitas pastoral di Keuskupan Larantuka yang kaya akan iman dan devosi namun tetap rentan terhadap gesekan kepentingan.

Mgr. Hans Monteiro menegaskan bahwa perbedaan adalah ruang bagi rahmat yang seharusnya membangun Tubuh Kristus.

“Membangun Gereja berarti belajar berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, dan memberi ruang bagi suara yang berbeda untuk mencari kehendak Allah.”

Baca Juga :  Yayasan Bambu Lestari Latih Pengawetan Bambu Warga Flores

Bagi Mgr. Hans Monteiro, puncak dari seluruh panggilan dan perutusan ini berakar pada Ekaristi. Mengacu pada dokumen Desiderio Desideravi, Mgr. Hans menjelaskan bahwa formatio atau pembentukan iman terjadi di dalam liturgi. Ekaristi memanggil umat untuk melakukan rekonsiliasi relasi yang dimulai dari kesediaan untuk mendengar dan mengampuni.

Akhir kotbahnya, Mgr. Hans Monteiro memberikan peringatan mengenai kedewasaan iman. Beliau mengajak seluruh klerus dan awam untuk tidak mudah terombang-ambing oleh arus negatif zaman, seperti pengaruh judi online atau ajaran menyesatkan.

Gereja Keuskupan Larantuka diharapkan terus bertumbuh menjadi tanda keselamatan bagi dunia, yang bersumber dari satu altar, satu iman, dan satu pengharapan menuju Kristus.

Dari altar ini, “kita menerima Kristus. Dari altar ini kita dipersatukan menjadi satu tubuh; dari altar ini kita diutus ke dunia. Semua bersumber dari altar. Karena itu, kita dipanggil oleh Allah, diutus oleh Kristus, dan dipersatukan oleh Roh Kudus.”

“Semoga Roh Kudus yang satu menuntun kita sebagai umat Allah yang berjalan bersama, agar Gereja Keuskupan Larantuka sungguh menjadi satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan yang bertumbuh menuju Kristus,” tegas Mgr. Hans Monteiro.

Perayaan Misa Pontifikal Uskup Keuskupan Larantuka Mgr Yohanes Hans Monteiro yang berlangsung meriah dilanjutkan dengan resepsi bersama umat di pelataran depan Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. *

Penulis : Ansel Atasoge

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Dekatkan Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan di Kawasan Terdampak Gempa Flores, PDIP Siagakan Rumah Sakit Apung di Pelabuhan Kedindi Reok
SMAK Syuradikara dan INTI Ende Kirim Dua Siswa Kuliah di Nantong University China
Korban Meninggal Gempa Flores di Sikka 6 Orang, 4.937 Rumah Alami Kerusakan
Korban Meninggal Gempa Flores Capai 127 Orang, 166 Ribu Masih Mengungsi
Djafar Achmad Galang Bantuan dari Pensiunan Pelindo Bantu Korban Gempa Flores di Ende
Salurkan Bantuan Gempa, Bupati Sikka Katakan Kehadiran APKASI Wujud Nyata Persaudaraan Sesama Anak Bangsa
Bangunan di Biara Kongregasi SMI Habi Alami Keretakan Akibat Gempa Flores
Sambangi Posko IKAL Lemhannas RI Peduli di Ngada, Brigjen Agus Setiawan Pastikan Bantuan Tersalurkan Secara Cepat, Tepat dan Merata
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 14:34 WITA

Dekatkan Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan di Kawasan Terdampak Gempa Flores, PDIP Siagakan Rumah Sakit Apung di Pelabuhan Kedindi Reok

Sabtu, 5 September 2026 - 13:19 WITA

SMAK Syuradikara dan INTI Ende Kirim Dua Siswa Kuliah di Nantong University China

Sabtu, 5 September 2026 - 12:03 WITA

Korban Meninggal Gempa Flores di Sikka 6 Orang, 4.937 Rumah Alami Kerusakan

Sabtu, 5 September 2026 - 11:59 WITA

Korban Meninggal Gempa Flores Capai 127 Orang, 166 Ribu Masih Mengungsi

Sabtu, 5 September 2026 - 11:40 WITA

Djafar Achmad Galang Bantuan dari Pensiunan Pelindo Bantu Korban Gempa Flores di Ende

Berita Terbaru