Mgr. Hans Monteiro Resmi Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka - FloresPos Net

Mgr. Hans Monteiro Resmi Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka

- Jurnalis

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Habemus Episcopum Novum “Kita punya seorang uskup yang baru”. Mgr Yohanes Hans Monteiro resmi ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Larantuka. Ia ditahbiskan dalam perayaan Ekaristi Kudus di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Rabu (11/2/2026) pagi.

Mgr Hans Monteiro begitu disapa ditahbiskan oleh Mgr Fransiskus Kopong Kung sebagai Uskup Pentahbis Utama didampingi Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden, dan Uskup Keuskupan Maumere, Mgr Ewaldus Martinus Sedu.

Ribuan umat Katolik baik dari Kabupaten Flores Timur maupun Kabupaten Lembata dan daerah lainnya bersatu bersama 34 uskup seluruh Nusantara hadir mengikuti perayaan tersebut.

Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengusung moto episkopalnya “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan).

Tiga Pilar Kesatuan: Menyentuh Setiap Sudut Kehidupan

Mgr. Budi Kleden dalam kotbahnya membedah moto Unum, Unus, Una sebagai sebuah pelukan semesta yang melintasi sekat gender, golongan, hingga sudut-sudut kehidupan yang paling sunyi. Menurutnya, penggunaan tiga genus bahasa tersebut melampaui urusan tata bahasa.

Ungkapan Latin itu menghadirkan simbol bahwa misi Mgr. Hans adalah misi yang utuh, sebuah panggilan untuk menyentuh setiap napas kehidupan di bumi Lamaholot tanpa ada satu pun yang tertinggal di luar lingkaran kasih.

Dalam pilar ‘Unum Corpus’, ditegaskan bahwa menjadi satu tubuh bukanlah tentang memaksakan keseragaman, melainkan merayakan keberagaman peran yang saling menguatkan.

Kesatuan sejati lahir saat Gereja berani merendahkan hati untuk melihat dunia dari mata mereka yang menjadi korban, merangkul jiwa-jiwa yang terhempas dalam kemiskinan empati, dan menemukan keberanian untuk saling mengampuni di tengah retakan-retakan ketersinggungan manusiawi.

Baca Juga :  Kementan Berikan 119 Pompa Air Demi Peningkatan Indeks Pertanaman di Manggarai Barat

Sementara itu, ‘Unus Spiritus’ hadir sebagai api kenabian yang membakar dinding “penjara ingat diri” dan kenyamanan semu.

Gereja dipanggil untuk turun ke kehidupan nyata, menjadi perisai bagi petani dan nelayan dari jeratan tengkulak, melawan lintah darat digital yang mengikis martabat, serta bersuara lantang menghentikan perdagangan manusia dan perusakan alam.

Bagi Mgr. Budi Kleden, seorang rohaniwan justru wajib berbicara tentang perkara duniawi, sebab kemiskinan yang merogoh perut seringkali menjadi awal dari keterpurukan batin yang paling dalam.

‘Una Spes’ ditenun menjadi lentera harapan yang tak kunjung padam di tengah dunia yang kian keras.

Harapan itu tidak abstrak. Ia nyata dalam mata awas para ‘Lamafa’ yang menantang gelombang Samudera Sawu, dalam jemari lentik gadis Adonara yang memintal benang di lereng Ile Boleng, serta dalam doa tulus petani Solor dan rindu tak bertepi seorang ibu di kaki Ile Mandiri. Di bawah pimpinan gembala baru, harapan-harapan kecil ini disatukan menjadi sebuah kekuatan besar untuk terus melangkah menuju rumah kasih yang satu.

Sang Komentator yang Kini Menjadi Gembala

Mgr. Budi Kleden dalam khotbahnya juga membuka dengan sebuah catatan sejarah yang menarik. Beliau mengenang peristiwa 22 tahun silam, saat Mgr. Fransiskus Kopong Kung memulai pelayanannya.

Kala itu, sosok yang berdiri di mimbar sebagai komentator adalah Romo Hans Monteiro muda. “Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi dengan komentator kita hari ini, 22 tahun kemudian,” ujar Mgr. Budi Kelen sambil melanjutkan.

“Jika Mgr. Frans Kopong Kung memimpin dengan keterbukaan batin ala Bunda Maria untuk merawat kesatuan di tengah umat (“Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”, dan “Semoga mereka semua bersatu supaya dunia percaya”), kini Mgr. Hans datang dengan satu motto namun bermakna tiga dimensi: “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes.”

Baca Juga :  Kabupaten Ngada Tuan Rumah Festival Gayain 2025

“Bale Nagi”: Pulang untuk Melayani

Momen paling menyentuh adalah ketika Mgr. Budi Kleden menyapa Mgr. Hans dengan sebutan hangat, “No” (sapaan akrab untuk laki-laki di Larantuka).

“No bale nagi (Pulang kampung), bukan karena mimpimu atau sekadar rindu makan jagung titi. No bale nagi sebab itulah perutusanmu. Supaya bersama kita semua, melangkah dalam rangkulan kasih Tuan Ma, mewartakan Tuan Ana.”

Mgr. Budi Kleden menutup khotbahnya dengan menegaskan bahwa segala perjuangan menuju kesatuan ini bermuara pada satu sosok: ‘Unus Christus’, Kristus yang satu. Dialah gembala utama yang akan menghantar seluruh umat untuk akhirnya “pulang ke rumah Tuhan” yang penuh kasih.

Perayaan bersejarah ini sejatinya tidak berhenti sebagai sebuah upacara peralihan tongkat kepemimpinan di Keuskupan Larantuka, melainkan sebuah pembaharuan janji suci yang dilarungkan ke dalam palung hati setiap umat.

Bahwa di tanah penuh berkat ini, iman akan tetap berdiri sekukuh tegakan Gunung Mandiri dan mengalir seluas samudera yang memeluk pulau-pulau, menjadi sauh yang menjaga langkah mereka agar tetap setia pada tradisi sembari terus berlayar menuju ufuk harapan yang baru.

Disaksikan Florespos.net, usai perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan resepsi bersama para Uskup dan umat yang hadir di areal depan Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. *

Penulis : Ansel Atasoge dan Wentho Eliando

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton
Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat
Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU
Reses di Ende, Oktovianus Moa Mesi Serahkan Hand Traktor Bantuan Julie Laiskodat ke Petani
Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi
STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0
Patris Lali Wolo Sebut Anggaran Jembatan Pomakeke Aeramo Sudah Ada, Tapi Tidak Dieksekusi Pemprov NTT
Cegah Bullying dan Judol, Tim Polres Ende Sosialisasi di SMAN 1 Ende
Berita ini 68 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:15 WITA

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:11 WITA

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:57 WITA

Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:16 WITA

Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WITA

STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA