LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Bagi masyarakat Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT, enau/aren (arenga pinnata) adalah salah satu sumber ekonomi, “pohon uang” bagi yang memiliki keterampilan.
Di Mabar, enau berkembang biak tanpa campur tangan manusia, tanpa budidaya. Walau begitu, tumbuhan sebangsa palem itu tetap tumbuh subur di alam liar setempat-Manggarai Barat.
Tanaman ini memiliki banyak keunggulan. Salah satunya berbuah tidak kenal musim. Bagian-bagian dari enau juga juga kaya manfaat. Di antara lain lidi, daun, ijuk, serta nira. Semua itu bisa jadi uang bagi yang memiliki keterampilan.
Lidi enau di antaranya dapat dibuatkan sapu lidi. Ijuknya antara lain dapat dijadikan atap rumah, tali, serta sapu ijuk. Niranya antara lain bisa diolah jadi tuak raja, dan gula batang.
Manfaat daun aren antara lain untuk bungkus gula batang. Ijuk enau juga oleh perajin tuak raja digunakan sebagai penyaring. Ditempelkan pada mulut wadah penampung tuak raja, entah bambu atau jerigen. Itu demi menjamin kebersihan minuman tersebut, terhindar dari kotoran.
Belakangan pemanfaatan nira aren kian beraneka. Di antara lain diproses jadi minuman beralkohol jenis sopi/tuak/arak, disamping tuak raja.
Selain untuk bahan baku tuak raja, sopi/arak, gula batang, nira enau di Mabar tahun-tahun terakhir telah diolah menjadi gula aren/gula rebok oleh “penggulat” enau di Manggarai Barat.
Hasil olahan enau setempat Mabar pun tidak hanya untuk konsumsi sendiri/pribadi, tapi bisa dijual guna mendapatkan uang. Baik berupa sapu, gula batang maupun gula aren/gula rebok, atap, tali maupun tuak raja serta sopi/arak.
Hanya, beberapa jenis produk enau di Mabar belakangan kabarnya sudah hilang dari peredaran. Di antaranya tali ijuk, sapu ijuk serta atap rumah dari ijuk. Konon diganti dengan barang impor. Tali ijuk diganti tali nilon, atap ijuk diganti seng. Nasib sapu ijuk dan lain-lain pun demikian.
Banyaknya jenis-macam olahan bagian-bagian dari enau tentu karena perkembangan zaman. Sudah lahir inovasi, kreativitas.
Bernadus Ambat, penduduk Labuan Bajo asal Kecamatan Ndoso-Mabar mengakui “jasa” enau bagi kehidupan warga Mabar amat besar.
“Termasuk masyarakat utara Mabar. Kami di sana, enau salah satu sumber ekonomi,” kata Ambat menanggapi media ini di Labuan Bajo ibu kota Mabar baru-baru ini.
Diungkapkan, wilayah utara Mabar atau Daerah Pemilihan 2 Mabar meliputi Kecamatan Ndoso, Kuwus Barat, Kuwus, Macar, dan Masang Pacar.
Tentang enau, kata Ambat, sejarah tak terbantahkan. Tumbuhan ini sesungguhnya adalah sumber kehidupan masyarakat Mabar.
Bagi yang miliki keterampilan, bagian-bagian dari enau bisa diolah/diproses jadi sopi/arak, tuak raja, sapu lidi, gula dan lain-lain. Dan semua bisa jadi uang, disamping konsumsi sendiri/pribadi.
“Dulu di Manggarai Barat ini khususnya, penghasilan petani itu sepertinya hanya kopi,tuak raja dan gula batang. Itu bisa sekolahkan anak, urus adat dan lain-lain. Saya tahu itu,” tutur Ambat.
Lanjutnya, enau juga terkait erat dengan urusan adat istiadat/ budaya orang Mabar, terutama tuak raja maupun sopi/arak dari aren/enau.
Untuk mengumpulkan orang/ keluarga demi kelancaran urusan selalu menggunakan tuak raja/sopi sebagai media pemersatu. Tidak melihat banyak-sedikitnya orang yang berkumpul, selalu ada tuak raja/sopi. Terima tamu juga selalu ada tuak raja, sopi.
Namun kembang biak enau di Mabar selama ini sepertinya tanpa budidaya. Tanaman ini tumbuh subur secara alami di alam liar tidak atas campur tangan manusia setempat.
“Di kita ini, sepertinya enau dieksploitasi, tidak budidaya. Prihatin sekali,” kata Ambat, anggota DPRD Mabar itu.
Selama ini di Ndoso dan lain-lain di utara Mabar, masih Ambat, kalau ada enau yang tumbuh alami di tanah milik, itu jadi milik pemilik lahan bersangkutan. Enau itu nanti dia proses jadi gula, sopi/arak dan lain-lain, kelak jadi uang.
“Semacam ‘pohon uang’ dari pemilik lahan bersangkutan,” ujar Ambat.
Nada hampir sama diutarakan Vinsen Gande, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Mabar.
Menanggapi Florespos.net di Labuan Bajo belum lama ini, Kadis Gande mengungkapkan, enau sesungguhnya satu kesatuan dengan kehidupan orang Mabar khususnya.
Tumbuhan ini kaya manfaat, sarat makna. Enau sebagai penopang ekonomi keluarga. Ada bagian-bagiannya yang bisa diproses guna meraup rupiah. Di antara lain niranya disadap, diracik menjadi gula, tuak raja, sopi/arak dan lain-lain. Kemudian dijual demi mendapatkan uang.
Tetapi tidak hanya itu, hampir semua urusan adat istiadat/ budaya orang Mabar selalu melibatkan tuak, sopi/arak. Terima tamu dan lain-lain harus ada tuak/sopi/arak.
Pada proses penyadapan nira di pohon enau, ada ungkapan- ungkapan khusus penyadap nira di sana. Banyak inspirasi budaya terkait ini, lahir dari pohon enau ketika proses penyadapan nira.
Saat proses masak nira jadi gula atau sopi, juga konon tak sedikit menggunakan kata-kata “magis” budaya setempat yang berkaitan erat kehidupan manusia dan pembangunan.
Mudah-mudahan enau dan segala macam keterkaitannya dengan budaya dan adat istiadat Mabar tak lekang oleh waktu, tidak terkecuali untuk ekonomi, katanya. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










