In Memoriam Yosef Maria Florisan - FloresPos Net

In Memoriam Yosef Maria Florisan

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 18:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

31 Mei 1967 – 5 Januari 2026
Penerjemah, Filsuf, Penjaga Makna

Oleh: J. Orong SVD

Di Kumba, Ruteng, Manggarai, pada 31 Mei 1967, lahirlah seorang anak yang kelak memilih setia pada jalan kata-kata. Pada 5 Januari 2026, di Klinik Santa Elizabeth Nita, Maumere, Yosef Maria Florisan menyelesaikan ziarah hidupnya—pergi dalam keheningan yang selaras dengan seluruh corak hidup dan pengabdiannya.

Ia adalah sarjana filsafat tamatan STFK Ledalero, seorang intelektual dengan kepekaan bahasa yang jarang dan kedalaman refleksi yang matang. Sejak masa studi, ia telah menunjukkan kecenderungan pada wilayah yang tidak mudah: filsafat modern Eropa, bahasa asing, dan kerja konseptual yang menuntut ketelitian ekstrem.

Bakat linguistiknya—terutama dalam bahasa Inggris dan Jerman—bukanlah sekadar kecakapan teknis, melainkan ekspresi dari etos filosofis: kesetiaan pada makna sebelum kesetiaan pada bentuk.

Skripsi akhirnya berjudul “Memperkenalkan Doktrin Kehendak untuk Berkuasa dalam Antropologi Filosofis Nietzsche”. Karya ini patut dikenang bukan hanya sebagai tugas akademik, melainkan sebagai tindakan intelektual yang melampaui zamannya.

Pada masa ketika sumber-sumber filsafat Nietzsche belum tersedia dalam bahasa Indonesia, Yosef Maria Florisan bekerja langsung dengan teks-teks asing, menyigi gagasan Wille zur Macht secara antropologis—bukan sekadar sebagai konsep metafisis, melainkan sebagai kunci untuk memahami manusia modern, hasrat, konflik, dan pencarian makna. Sejak awal, ia telah menempatkan diri sebagai perantara dunia pemikiran, bukan sekadar penafsir lokal.

Pernah menapaki jalan sebagai calon imam Keuskupan Ruteng, ia kemudian menarik diri dari jalur tahbisan. Namun hidupnya justru menunjukkan bahwa ia tidak pernah menarik diri dari panggilan. Ia hanya memindahkannya ke medan lain: penerjemahan—sebuah bentuk askese intelektual yang jarang dikenali sebagai panggilan rohani.

Di Penerbit Ledalero, Maumere, Flores, ia mengabdikan diri menangani terjemahan naskah-naskah asing. Di sanalah ia menjalani panggilan hidupnya secara penuh. Ia bekerja dalam kesunyian, dalam disiplin yang panjang, dengan kesadaran bahwa menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kalimat, melainkan menjaga integritas pemikiran lintas bahasa dan budaya.

Baca Juga :  Sanggar Mohe Wae Rebo dan Festival Golo Koe

Saya sendiri pernah bekerja bersama almarhum sebagai staf di Penerbit Ledalero, dan dari kedekatan kerja itulah panggilan asketis ini menjadi nyata, bukan sekadar konsep. Yosef Maria Florisan bukan pribadi yang banyak berbicara tentang dirinya; ia mengajar melalui cara bekerja.

Ketelitian pada istilah, kesabaran membaca ulang paragraf yang sama, dan kehati-hatian memilih padanan kata dijalani tanpa keluhan dan tanpa sikap ingin menonjol. Bekerja bersamanya berarti belajar bahwa penerjemahan menuntut tanggung jawab moral: setia pada penulis, jujur pada pembaca, dan rendah hati terhadap bahasa itu sendiri.

Dalam kerja harian yang tampak biasa, ia justru memperlihatkan kedalaman panggilan—bahwa kesetiaan pada hal-hal kecil adalah bentuk paling konkret dari kesetiaan pada kebenaran.
Buku-buku yang hari ini dapat ditelusuri dalam jejak digital hanyalah sebagian kecil dari warisan intelektualnya. Ia menerjemahkan banyak karya besar teologi, sejarah Gereja, etika, dan biblika—di antaranya tulisan-tulisan Stephen B. Bevans, Karel Steenbrink, Karl-Heinz Peschke, Leonardo Boff, Walter Brueggemann, dan lain-lain.

Namun di balik judul-judul yang tercatat itu, masih terdapat karya-karya lain yang belum terarsipkan, termasuk puluhan artikel, bahan ajar, dan naskah akademik yang ia alihbahasakan demi kepentingan studi, formasi, dan pengembangan pemikiran teologi-filsafat di Indonesia.

Dengan kata lain, jejak Yosef Maria Florisan lebih luas daripada yang dapat dihitung, dan lebih dalam daripada yang dapat didokumentasikan. Banyak pembaca mungkin tidak pernah mengenal namanya, tetapi berpikir melalui kalimat-kalimat yang ia jernihkan. Banyak mahasiswa dan dosen mengutip gagasan yang masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui tangannya—tanpa menyadari kerja panjang yang memungkinkan perjumpaan itu terjadi.

Secara filosofis, hidupnya adalah kesaksian bahwa makna tidak selalu dilahirkan oleh mereka yang paling terlihat, tetapi oleh mereka yang paling setia. Ia tidak membangun sistemnya sendiri, tetapi memungkinkan sistem-sistem besar berpindah tempat dengan jujur. Ia tidak menonjolkan diri, tetapi menjaga agar kebenaran tidak terdistorsi oleh kelalaian bahasa.

Baca Juga :  Dua Uskup, 3 Profesor, 21 Doktor dan 17 Magister Berkontribusi Sukseskan Sanpio Goes Synodal

Kini, ia telah menyelesaikan terjemahan terakhirnya—dari bahasa dunia ke dalam keheningan kekal. Namun sebagaimana semua penerjemah sejati, ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam kalimat-kalimat yang terus dibaca, dalam konsep-konsep yang terus dipikirkan, dan dalam kesadaran Gereja serta dunia akademik yang ia layani dengan setia.

Melalui kerjanya, pemikiran-pemikiran besar dunia diperkenalkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kejernihan dan tanggung jawab ilmiah. Di antara karya-karya penting yang diterjemahkannya adalah:
• Model-model Teologi Kontekstual – Stephen B. Bevans
• Terus Berubah – Tetap Setia: Dasar, Pola, Konteks Misi – Stephen B. Bevans & Roger P. Schroeder
• Teologi dalam Perspektif Global – Stephen B. Bevans
• Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808–1942, Jilid II – Karel Steenbrink
• Orang-Orang Katolik di Indonesia, Jilid I & II – Karel Steenbrink
• Etika Kristiani I: Pendasaran Teologi Moral – Karl-Heinz Peschke, SVD
• Kekristenan: Sebuah Ikhtisar – Leonardo Boff
• Minoritas yang Percaya Diri – Karel Steenbrink
• Menabur Kehidupan dan Pengharapan: Spiritualitas Hak Asasi Manusia – Michael Heinz & Yosef Maria Florisan
• Kekristenan dan Teologi Asia: Inkulturasi, Dialog Antaragama, Pembebasan Paripurna – Edmund Kee-Fook Chia
• Teologi Perjanjian Lama I & II: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan – Walter Brueggemann
• Kekristenan: Gerakan Universal, Jilid II – Irvin Dale T.

Selamat jalan, Yosef Maria Florisan.
Engkau memperkenalkan Nietzsche, menyeberangkan teologi dunia, dan menjaga agar bahasa Indonesia layak menjadi rumah bagi pemikiran besar.
Kini, engkau beristirahat dalam Kebenaran yang tak lagi memerlukan terjemahan. *

Penulis adalah Dosen IFTK Ledalero – Maumere, Flores, NTT

Berita Terkait

Sokar Watubala Cikal Bakal Yasbida, Dari Kegiatan Sosial Karitatif Menjadi Yayasan Formil (Kenangan 40 Tahun Yasbida St. Vinsensius, 24 September 2026)
Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur–Sudah Habiskan Rp 2 Miliar Lebih, Dirubah Jadi Sub Sentra, Pintu Masuk Tindak Pidana Korupsi?
Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati
Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores
Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia
Hampir Dua Tahun di Huntara, Pengungsi Lewotobi Menanam Harapan lewat Semangka
Gempa, Ketakutan, dan Misteri Sebuah Kepergian
Cinta yang Mencapai Tujuan dengan Cara yang Berbeda
Berita ini 350 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 08:05 WITA

Sokar Watubala Cikal Bakal Yasbida, Dari Kegiatan Sosial Karitatif Menjadi Yayasan Formil (Kenangan 40 Tahun Yasbida St. Vinsensius, 24 September 2026)

Selasa, 15 September 2026 - 19:26 WITA

Sentra Peternakan Sapi di Flores Timur–Sudah Habiskan Rp 2 Miliar Lebih, Dirubah Jadi Sub Sentra, Pintu Masuk Tindak Pidana Korupsi?

Sabtu, 12 September 2026 - 20:10 WITA

Cerita Ketua RT Manchek Mbawu, Melayani Korban Gempa Flores dengan Sepenuh Hati

Kamis, 3 September 2026 - 14:07 WITA

Geliat Ekonomi Mulai Bersemi di Balik Reruntuhan Bangunan Warga Reok Pasca Gempa Tektonik Flores

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:57 WITA

Lembah Colol Manggarai Timur: Surga Kopi Terbaik Kelas Dunia

Berita Terbaru

Deputi V BNPB dan Wabup gada,Bernadinus Dhey gebu.

Nusa Bunga

BNPB Minta Pemda Ngada Segera Tuntaskan Pembangunan Huntara

Rabu, 23 Sep 2026 - 21:36 WITA