LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar) NTT berharap penerimaan PAD setempat terus meningkat. Pendapatan Asli Daerah salah satu “dewa penolong” membangun Mabar ke depan karena potensinya menjanjikan.
Menanggapi wartawan baru-baru ini di Labuan Bajo, Sekretatis Daerah (Sekda) Mabar, Fransiskus Salesius Sodo, mengungkapkan, ke depannya Pemkab harus mengoptimalkan penerimaan PAD untuk membiayai pembangunan setempat.
Diungkapkan, dana transfer daerah Tahun 2026 untuk Kabupaten Mabar mengalami penurunan, hanya Rp. 839.869.273.000. Itu sudah termasuk DAU (Dana Alokasi Umum), DAK (Dana Alokasi Khusus), dan dana bagi hasil.
Untuk DAU sebesar Rp. 505.797.192.000, DAK fisik. Rp. 2,4 miliar, DAK non fisik Rp. 201 miliar. Sisanya dana bagi hasil dari pagu dana transfer daerah Mabar Tahun 2026 Rp. 839 miliar lebih.
Jumlah DAU tahun-tahun sebelumnya untuk Mabar lebih dari pagu 2026. DAK fisik juga sebelum-sebelumnya sering dengar di angka Rp. 207 miliar, pernah Rp. 300-an miliar. Begitu pula dana bagi hasil, sebelum-sebelumnya besar, tapi di 2026 berkurang.
DAK non fisik Mabar Tahun 2026 Rp. 201.243.699.000. Peruntukannya yakni bayar tunjangan profesi guru, dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan beberapa yang lainnya.
Porsi terbesar DAK non fisik tersebut yakni buat tunjangan profesi guru Rp. 102 miliar, dan BOS sebesar Rp. 50 miliar, sisanya untuk item lain paket DAK non fisik.
Dengan demikian, rata-rata dana transfer daerah Tahun 2026 buat Mabar, mungkin untuk seluruh Indonesia, kurang lebih hanya untuk gaji pegawai/ASN (Aparatur Sipil Negara).
“Jadi DAU itu untuk belanja, kami tidak bilang belanja gaji saja ya, belanja pegawai, dan belanja wajib,” kata Sekda Sodo.
Ketika dipancing, apa di luar itu tidak ada belanja publik? Kurang lebih itu sudah di situ. Hampir, nyaris tidak ada, ujar Sekda Sodo lagi.
Sekda Sodo berharap, penerimaan PAD Mabar ke depannya terus meningkat signifikan. Wajib pajak juga harus bayar pajak.
Masih dia, pembangunan fisik di Mabar Tahun 2026 akan menggunakan anggaran Tahun 2025 yang belum terpakai.
Pada APBD Perubahan 2025, ada puluhan miliar untuk jata pembangunan fisik yang digeser pelaksanaannya ke 2026, antara lain pembangunan ruas jalan Hita-Bari.
“Ya, pembangunan fisik 2025 di Manggarai Barat bergeser ke 2026. Sumber dananya dari APBD Perubahan 2025,” kata Sekda Sodo.
Dengan berkurangnya dana transfer dari Pemerintah Pusat (Pempus) ke Pemerintah Daerah (Pemda), termasuk Mabar, sangat berpengaruh untuk pembangunan fisik di daerah, tak terkecuali Mabar.
“Ya, pasti berpengaruh lah. Jalan, jembatan, dan lain sebagainya,” katanya.
Ada beberapa infrastruktur yang dimunculkan baru oleh Pemkab Mabar 2026, seperti rumah potong unggas. Itu karena kebutuhan sangat mendesak, sumber dananya dari APBD Dua Mabar.
Adanya kebijakan efisiensi dari Pempus, Pemkab Mabar harus menggejot seluruh potensi daerah itu. Berharap penerimaan PAD Mabar terus meningkat guna membiayai pembangunan dan mensejahterakan masyarakat.
“Tidak ada pilihan lain sekarang, kecuali PAD, harus optimal seluruh potensi yang ada untuk meningkatkan PAD. Dan di sisi lain, wajib pajak harus membayar pajak,” ujar Sekda Sodo.
Lanjutnya, target PAD Mabar 2026 sebesar Rp. 310 miliar lebih, atau lebih besar dari target PAD Mabar di APBD Perubahan 2025 sebesar Rp. 281 miliar. Realisasi per awal Desember Rp. 249 miliar (88,6 %).
“Berharap terealisasi seratus persen. Kita optimis, karena masih ada waktu sekitar 1 bulan lagi. Posnya antara lain dari pajak hotel dan restoran. Itu kan sudah pasti,” ujar Sekda Sodo.
Target PAD 2026 sebesar 310 miliar, pemerintah optimis terealisasi. Pemerintah punya kewajiban untuk tingkatkan PAD. Harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tambah Sekda Sodo. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










