MBAY, FLORESPOS.net-Warga Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan aksi demonstrasi di Kabupaten Bupati setempat, Kamis (4/12/2025.
Aksi itu terjadi lantaran warga menduga kuat anggaran untuk pembangunan sarana air bersihnya sebesar Rp 3,2 miliar raib dari alokasi APBD tahun 2026.
Warga juga menilai pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo di bawah pimpinan Bupati Simplisius Donatus dan Wakil Bupati Gonzalo telah mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat Kecamatan Aesesa Selatan yang selama hidup tanpa akses air bersih layak.
“Air minum ini setiap tahun disuarakan, bahwa kita selama ini menggunakan air hujan, air embung, untuk kebutuhan sehari-hari, ketika masyarakat tahu, ada anggaran kita senang, mengapa dengan tahu dan menghilangkan itu anggaran,” ujar Faris Tiba, koordinator aksi demonstrasi.
Warga Aesesa Selatan sangat mengharapkan anggaran tersebut dieksekusi pada tahun anggaran 2026 untuk bisa menghadirkan layanan air bersih yang layak. Akan tetapi, belakangan raib entah ke mana.
“Dugaannya sudah dicoret di banggar DPRD, kami sudah kroscek lagi ke Bappeda, ke Dinas PUPR, hasilnya sudah tidak ada anggaran,” ujar Faris.
Tokoh muda lainnya, Kristian Minggu, menegaskan masyarakat Aesesa Selatan sudah terlalu lama menderita akibat krisis air. Banyak desa masih andalkan air hujan, embung, atau sumber air darurat lainnya untuk kebutuhan minum dan mandi.
“Kami datang karena kecewa. Janji pemenuhan air bersih selalu diulangi, tetapi anggarannya justru hilang saat pembahasan APBD,” ujarnya.
Kekecewaan warga Kecamatan Aesesa Selatan tersebut juga beririsan dengan sikap politik anggota DPRD asal Aesesa Selatan, Kristianus Garo, yang sebelumnya melakukan walk-out dari sidang paripurna persetujuan APBD 2026.
Garo menilai, penghapusan anggaran air bersih sebagai bentuk ketidakadilan terhadap masyarakat yang paling membutuhkan layanan dasar.
“Walk out karena anggaran air minum hilang, buat apa saya hadir menyetujui sesuatu yang alokasi anggaran untuk Aesesa Selatan tidak ada,” ujar Garo.
Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menyebut, anggaran air bersih untuk Kecamatan Aesesa Selatan tersebut tiba-tiba hilang saat pembahasan di Banggar DPRD.
Kendati demikian, Bupati Simplisius memastikan uang Rp 3,2 miliar itu masih aman di kas daerah tidak digeser untuk biaya pembangunan lain.
“Saya pastikan uang Rp 3 miliar lebih itu masih ada di kas daerah, tidak hilang,” katanya.
Bupati Simplisius menjelaskan, alasan Pemerintah Kabupaten Nagekeo tidak mengeksekusi anggaran tersebut lantaran belum ada produk perencanaan.
Penjelasan Bupati yang mengatakan bahwa belum ada produk perencanaan sempat membuat bingung Faris Tiba dan Kristian Minggu.
“Kalau belum ada produk perencanaan yang Rp. 3, 2 miliar ini dapat dari mana?” tanya tokoh muda, Kristian Minggu.
Kristian menduga, raibnya anggaran ini dari DPA Dinas PUPR ditengarai ada persengkongkolan jahat para pihak yang kemudian mengorbankan kebutuhan mendasar masyarakat.
“Saya minta Pak Bupati tolong evaluasi bawahan yang mencoba-coba untuk sabotase program super prioritas Bupati dan Wakil Bupati,” tegas Kristian.
Sungguhpun begitu, Simplisius Donatus memastikan bahwa persoalan air bersih di wilayah Kecamatan Aesesa Selatan menjadi prioritas utama pemerintah yang pasti akan dituntaskan.
Sementara itu, Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada mengatakan bahwa saat ini APBD Kabupaten Nagekeo tahun 2026 belum ditetapkan. Bappeda dan anggota DPRD sedang melakukan asistensi di Provinsi.
Kata Gonzalo, tidak menutup kemungkinan anggaran tersebut kembali dianggarkan lantaran, saat pembahasan di DPRD diberi tanda bintang. Itu artinya masih ada ruang bagi Pemda untuk kembali mengakomodir anggaran tersebut berdasarkan petunjuk Bappeda Provinsi.
Lanjut Gonzalo, sebagaimana visi dan misi mereka, air bersih merupakan program prioritas bersama infrastruktur jalan dan listrik. “Bukan prioritas tapi super prioritas, jadi jangan terlalu khawatir,” pungkasnya. *
Penulis : Arkadius Togo
Editor : Wentho Eliando










