Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
EL TARI Memorial Cup (ETMC) 2025 yang diselenggarakan di Kota Ende merupakan sebuah peristiwa yang memiliki signifikansi penting bagi kehidupan sosial-budaya.
Ajang ini telah menjadi ritual tahunan olahraga di Nusa Tenggara Timur, sekaligus mengandung makna historis dan kultural yang mendalam. Ende, sebagai tanah kelahiran Pancasila, menghadirkan ETMC sebagai titik temu antara semangat kompetisi olahraga dan warisan budaya.
Sepak bola, dalam konteks ini, memiliki kekuatan unik. Ia mampu memobilisasi massa, melampaui sekat sosial, serta berfungsi sebagai bahasa universal yang menyatukan berbagai etnis di NTT.
Penyelenggaraan ETMC di Ende memperluas fokus dari sekadar hasil pertandingan menuju dimensi yang lebih kompleks. Turnamen ini menjadi wahana perayaan identitas kebudayaan setiap tim peserta, sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial.
Ribuan pendukung, atlet, dan official hadir dari seluruh wilayah NTT. Mereka tidak sekedar berpartisipasi dalam kompetisi, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi, promosi pariwisata lokal, serta ‘diplomasi budaya akar rumput’ yang efektif.
Nelson Mandela pernah menegaskan bahwa olahraga memiliki relevansi sebagai medium transformasi sosial. Menurutnya, “Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, menginspirasi, dan menyatukan manusia dengan cara yang hampir tidak dapat dilakukan oleh hal lain.”
Pernyataan ini menemukan aktualisasinya dalam ETMC, di mana kearifan lokal disuntikkan ke dalam narasi olahraga. Upacara pembukaan dapat menampilkan tarian tradisional khas Ende, maskot turnamen dapat diangkat dari mitologi lokal, dan setiap gol yang tercipta bergaung bersama nilai luhur budaya seperti persatuan dan gotong royong.
Tim-tim peserta yang datang ke Ende juga membawa nama kabupaten, serentak pula (dan ini yang lebih penting) membawa semangat dan kehormatan daerah asal.
Dukungan suporter ditandai oleh teriakan dalam bahasa daerah, penggunaan busana tradisional di tribun, serta iringan musik khas. Semua ini membentuk atraksi budaya yang autentik. Yang perlu dipastikan dan tetap dijaga oleh panitia penyelenggara adalah bahwa aspek budaya ditempatkan sebagai inti acara, dan bukan sebagai pelengkap ornamen tambahan.
ETMC juga harus diposisikan sebagai momentum pendidikan nilai bagi generasi muda. Olahraga dan budaya dapat dipahami sebagai dua sisi mata uang yang sama: sportivitas di lapangan mencerminkan etika dan moral budaya. Infrastruktur budaya, termasuk situs bersejarah seperti Rumah Pengasingan Bung Karno, perlu dipromosikan secara lebih intensif untuk memperkuat status Ende sebagai kota historis.
Sejatinya, El Tari Memorial Cup (ETMC) 2025 merupakan sebuah ‘panggung agung’ di mana denyut budaya dan semangat sportivitas berpadu dalam harmoni. Di tanah Ende, tempat Pancasila lahir, sepak bola menjelma menjadi bahasa universal yang merangkul perbedaan, menyatukan etnis, dan menyalakan bara persaudaraan.
Di setiap sorak suporter, di setiap tarian pembukaan, dan di setiap gol yang tercipta, bergaunglah pesan luhur bahwa olahraga mampu menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan akar budayanya.
Paus Yohanes Paulus II pernah menegaskan, “Budaya, pada dasarnya, adalah apa yang membuat kita menjadi manusia.” Kata-kata ini menemukan wujudnya dalam ETMC, ketika lapangan hijau tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga altar perayaan identitas lokal.
Di balik teriakan dukungan, busana tradisional, dan musik khas yang mengiringi pertandingan, tersimpan ‘diplomasi budaya akar rumput’ yang mengajarkan nilai persatuan, gotong royong, dan penghormatan pada warisan leluhur. Olahraga, dalam balutan budaya, menjelma sebagai instrumen strategis untuk melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan NTT kepada dunia.
Di atas semuanya itu, ETMC 2025 harus dipandang sebagai model baru: sebuah simfoni di mana culture and sport berjalan beriringan, saling menguatkan, dan bersama-sama mengukir sejarah dari Bumi Flores. Inilah momentum emas bagi NTT untuk menampilkan wajah sejatinya. Wajah yang penuh semangat, berakar pada tradisi, namun terbuka pada dunia.
Dari Ende, pesan itu akan bergema bahwa olahraga bukan semata tentang kemenangan, melainkan tentang merayakan kemanusiaan, menyalakan harapan, dan menenun kembali jalinan budaya yang membuat kita utuh sebagai bangsa.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










