Terkait prevalensi stroke di NTT, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sejumlah kabupaten menunjukkan angka cukup tinggi, seperti Sikka (9 persen), Manggarai (8 persen) dan Kupang (6 persen), sementara akses layanan kesehatan masih terbatas. Hal ini dapat menambah risiko keterlambatan penanganan dan meningkatkan angka kecacatan, bahkan kematian.
“Stroke merupakan penyebab kecacatan jangka panjang nomor satu di dunia. Hal ini tentunya membutuhkan penanganan yang komprehensif dari berbagai bidang dan pihak, baik dokter, paramedis maupun pendamping pasien,” tutur Dodik.
Ketua Panitia Peringatan Hari Stroke 2025 yang juga Ketua Yayasan Stroke Indonesia Cabang NTT, dokter Yuliana Imelda Ora Adja menyampaikan, ada sejumlah agenda yang dijalankan selama peringatan Hari Stroke 2025 tingkat nasional, yaitu simposium untuk tenaga kesehatan, lokakarya untuk tenaga kesehatan, peluncuran Guideline Stroke Nasional, pelantikan Yayasan Stroke Indonesia Cabang NTT, pelayanan pemeriksaan kesehatan dan faktor risiko stroke, serta seminar awam ‘Deteksi Dini Stroke’ dan senam pencegahan stroke.
Ia menyebutkan, jumlah tenaga dokter neurologi di NTT saat ini sebanyak 21 orang yang tersebar, sedangkan yang masih menjalani pendidikan profesi sebanyak 27 orang. Diharapkan semua mereka kembali mengabdi di NTT setelah menyelesaikan pendidikan.
“Semua dokter yang mengambil spesialis neurologi diikat dengan surat perjanjian agar tidak berpindah ke daerah lain. Berbekal pengalaman sebelumnya, sehingga yang ikut pendidikan spesialis diutamakan adalah seorang aparatur sipil negara dan putera daerah,” papar Imelda.*
Penulis : Leo Ritan
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










