Generasi kami yang masih tumbuh dalam tradisi lisan sesungguhnya sangat beruntung karena masih dapat mengenyam proses tumbuh-kembang bersama tradisi tutu koda yang dipandu orang tua, kakek dan nenek. Sekarang ini setelah industri gadget telepon seluler pintar melibas dunia, tradisi tutu koda itu perlahan punah. Mungkin suatu waktu akan tinggal kenangan tanpa makna.
Tata Hermien mengabdikan seluruh diri dan hidupnya dalam dunia jurnalisme. Kepulangannya ke rumah Tuhan tidak menghilangkan jejak persembahan dirinya yang tulus. Hermien mendapat bilik istimewa dalam kenangan semua orang yang mengenal dan mengalami kasih Tuhan melalui kehadirannya.
Wahyu Dhyatmika adalah jurnalis Tempo yang bersaksi tentang kiprah Hermien di ruang redaksi einvestigasi majalah Tempo. Dia melukiskan Hermien Kleden sebagai sosok “Sangat teliti, sangat cerewet namun sekaligus sangat perhatian pada reporter.
Dia selalu memanggil kami dengan sapaan “adik”. Dia menempatkan dirinya sebagai senior yang selalu siap mendidik kami, berbagi ilmu dan pengetahuan. Dia sangat cermat dalam menulis, piawai menggunakan kata, lincah memindahkan peristiwa menjadi teks berita. Dia tidak pernah pelit bercerita, tak pernah lelah menjadi mentor, tak pernah berhenti menjadi guru.”
Wahyu menulis, di kalangan jurnalis Tempo, Tata Hermien sangat percaya diri dan mengajarkan para yunior untuk menghargai diri mereka sendiri. Dengan kepribadiannya yang hangat, dengan wawasan yang sangat luas, dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata, dengan pikirannya yang terbuka, dengan keingintahuannya yang tak pernah habis, dia sesungguhnya mengajarkan bagaimana menjadi sosok jurnalis yang baik.
Jurnalis harus memberi suara pada mereka yang tak bisa bersuara. Suara itu mesti berkualitas. Maka jurnalis mesti selalu haus akan pengetahuan dan cekatan menambah amunisi suaranya.
Bagi seorang jurnalis, buku adalah sahabat hingga akhir. Membaca buku berarti belajar untuk menulis lebih baik, kaya perspektif, mengasah kepekaan dan mendisiplinkan gerak pikiran.
Sewaktu masa studi di Jakarta, Tata Hermien kadang mengajak diskusi yang biasanya sambil makan malam. Sopirnya yang sangat setia selalu menjemput saya di depan stasiun kereta api Menteng, Jakarta pusat.
Mobilnya dirancang sekian sehingga menjadi perpustakaan. Banyak buku bertebaran. Tempat duduknya dipasangi lampu sehingga ia bisa membaca naskah liputan, buku terbaru ataupun bahan seminar. Segala waktu dimaknai dengan membaca dan menulis.
Tulisan-tulisan itu abadi. Apalagi di era digital saat ini dengan kecepatan dan pendokumentasian yang rapi.
Tata Hermien…Terima kasih untuk semua teladan. Kesetiaan dalam kerja dan ketekunan dalam membangun pikiran.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










