Jurnalisme adalah ruang yang demokratis karena memuliakan perbedaan dan argumentasi. Ketika dia menerima penghargaan SK Trimurti atas kontribusinya kepada dunia jurnalisme Indonesia, Tata Hermirn tersenyum lebar. Buah dari ketekunan dan ketelatenan karya jurnalisme. Dan Tata Hermien menikmati dunia jurnalisme itu dengan senyum hingga tapal batas hidupnya.
Tata Hermien Kleden telah berkarir sebagai jurnalis dalam rentang waktu puluhan tahun. Catatan dari buku Jejak Jurnalis Perempuan (2012) yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Hermien merintis karir sejak tahun 1987 dengan bekerja sebagai kontributor sebuah majalah internasional dari Perancis.
Dia pernah menjadi Wakil Redaktur Eksekutif Majalah Tempo dan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo English, Dewan Eksekutif Tempo Media Group, Redaktur Pelaksana Koran Tempo.
Deretan jabatan itu tidak pernah dia singgung selama hidupnya. Dia hanya menjalankan tanggung jawab kenabian: menulis sebagai jalan penyadaran rasionalitas publik. Baginya, jurnalisme investigasi itu ia lukiskan sebagai divisi paling kejam. Tidak mudah membongkar kejahatan elite politik dan pejabat publik.
Bagi Hermien, tanggung jawab kemanusiaan jurnalis adalah membagikan fakta yang ada di lapangan kepada publik. Banyak sekali laporan investigatif yang ditulis Tempo, Kompas, dan media lain tapi kasus korupsi, kejahatan lingkungan, mafia proyek pembangunan dan kejahatan publik lain tidak pernah surut, apalagi berhenti.
Tentu semua kejahatan publik itu akan lebih membandang ketika jurnalis tidak melakukan investigasi dan hanya menulis seremoni pejabat berdasarkan press release humas yang mendewakan atasannya.
Jurnalis bertanggung jawab kepada publik untuk mengetahui semua kotoran yang ada di bawah karpet merah. Namun jurnalis bukan malaikat, karena hanya pembawa informasi kepada publik.
Saya ingat satu ungkapan dari Tata Hermien yang sangat membekas. “write like you talk.” Ungkapan ini di satu sisi, sangat berbahaya bagi orang Flores yang dikenal omong banyak, kadang minim substansi. Orang Lio bilang wora yang artinya buih, busa. Omong sampai mulut berbih dan berbusa.
Ada orang memang punya kemampuan seperti itu. Tapi sesungguhnya menulis itu titian untuk mendisiplinkan pikiran yang akan memelihara kesegaran otak, menjauhkan manusia dari demensia, dan membuat manusia tetap produktif sampai usia lanjut. Menulis dapat mempertemukan semua orang dari berbagai latar belakang dan meruntuhkan tembok pemisah antara penulis dan pembaca.
Menulis itu sama dengan berceritera, berkisah, bernarasi dan bertutur secara lisan. Dalam dunia jurnalisme modern, ada tradisi yang kini kembali dikembangkan secara luas oleh media massa. Itulah jurnalisme story telling atau jurnalisme tutu koda dalam bahasa Lamaholot, Flores Timur-Lembata.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










