ENDE, FLORESPOS.net-Relawan jaringan JPIC Flores Bagian Timur yang datang dari berbagai latar belakang baik biarawan, biarawati, kelompok kategorial dan Perempuan Lintas Agama (Pelita) serta OKP dan instansi pemerintah menggelar kampanye anti Traficking atau perdagangan manusia.
Kampanye tersebut dilakukan dengan konvoi keliling Kota Ende dan dilepas oleh Bupati Ende di halaman biara suster SSpS Ende, Jumat (25/7/2025) pagi.
Ketua Jaringan Relawan JPIC, Sr Wilhelmina Kato, SSpS mengatakan perdagangan manusia selama ini sungguh sadis karena itu perlu memperkuat keluarga-keluarga dan masyarakat pada umumnya agar cerdas dalam merantau.
Perdagangan Orang adalah Kejahatan kemanusian yang terorganisir dan masif maka harus disikapi bersama.
Pada kesempatan itu Sr Wilhelmina menyampaikan dan memohon tiga hal kepada pemerintah daerah. Hal tersebut sifatnya mendesak berkaitan dengan pencegahan tindak perdagangan manusia.
Tiga hal mendesak tersebut yaitu pemerintah perlu mengeluarkan regulasi seperti perda dan perdes, tingkatkan peran gugus tugas dan kolaborasi untuk isu kemanusiaan.
“Kita butuh Perbup dan Perda, serta perdes bagi masing-masing desa. Tingkatkan peran gugus tugas di Kabupaten Ende agar kehadirannya sungguh menggigit. Kami mohon kiranya kolaborasi yang sudah dimulai dengan isu kemanusiaan ini perlu ditingkatkan,” kata Sr. Wilhelmina.
Sr Wilhelmina mengatakan alasan mendasar berkampanye menjelang Hari Anti Trafficking atau hari Anti perdagangan manusia sedunia karena JPIC SSpS Flores bagian timur bersama dengan jaringan Relawan SSpS ingin menggedor nurani seluruh warga masyarakat Kabupaten Ende yg masih lelap diatas 16 Peti mati di tahun 2025 dari Januari sampai Juli.
Alasan lain yaitu ingin melakukan edukasi besar besaran kepada masyarakat akar rumput sampai pada masyarakat tingkat menengah agar tidak asing dengan isu ini.
Pertanyaan untuk direnungkan masih adakah hati yang membatu ketika mendengar 35 ton ginjal manusia Korban Perdagangan Manusia yang berhasil diringkus oleh pihak keamanan untuk dikirim ke Kamboja? Masih mungkinkah saya, anda kita semua tersenyum.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










